• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 27, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Menjinakkan Gelombang Gen Y

by Sandy Romualdus
26 Maret 2015 - 00:00
11
VIEWS
Menjinakkan Gelombang Gen Y
0
SHARES
11
VIEWS

Gelombang kehadiran generasi baru dalam angkatan kerja di hampir seluruh perusahaan di global sudah tak bisa dihindari lagi. Kini, Generasi Y yang lahir dalam periode 80-an hingga akhir 90-an mulai mengisi poramida terbawah dalam struktur pekerja di perusahaan.
Kondisi ini tentu mengharuskan perusahaan memodifikasi kebijakan pengelolaan sumber daya manusia yang selama ini lazim dipraktikkan. Lantas apa strategi yang dapat digunakan oleh divisi SDM dalam mengelola generasi ini?
Menurut Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia BNI, berbicara mengenai Generasi Y, sama halnya dengan berbicara mengenai human capital, human investment. “Mereka ini adalah modal yang paling bernilai bagi perusahaan. Karena kalau talenta bagus, harus dijaga dan dipertahankan, karena tingkat turn overnya tinggi, sangat mudah ‘dibajak tetangga,” kata dia.
Jika demikian, maka pengelolaan karyawan jenis Gen Y yang terus tumbuh, memberikan tantangan yang tak mudah bagi dunia bisnis, khususnya perbankan. Price Waterhouse Cooper (2008) dalam sebuah laporannya mengatakan kehadiran Gen Y ini juga berbarengan dengan kemunculan krisis bakat pada perusahaan.
Laporan itu menyimpulkan bahwa masa depan pengelolaan karyawan akan diwarnai dengan beberapa dinamika baru yaitu krisis bakat (talent crisis), mulai uzurnya tenaga kerja di Barat, peningkatan mobilitas pekerja global, dan hal-hal terkait dengan isu organisasi dan budaya yang muncul sebagai dampak langsung perubahan dekade ini. Talent crisis secara khusus menyorot munculnya Generasi Y dalam angkatan kerja.
Terhadap isu ini, para praktisi tenaga kerja di AS dan Eropa telah mengembangkan pendekatan-pendekatan yang secara khusus dibuat untuk generasi ini, dan bahkan perusahaan mulai mempertimbangkan pendekatan ini menjadi model recruitment, development dan retention yang bisa diacu perusahaan.
Di Indonesia, mengenal Generasi Y adalah sebuah tantangan tersendiri karena studi tentang generasi ini sangat terbatas atau bahkan dapat dikatakan sangat jarang, khususnya untuk mengkaji karakteristik ataupun persepsi dari generasi ini.

Pasar Potensial

Sebaliknya, keberadaan Generasi Y di Indonesia sebenarnya telah dikenal bahkan telah dimanfaatkan oleh korporasi global dan mulai diikuti perusahaan nasional. Seperti dikatakan Harjanto Tjitohardjojo, Direktur PT Mandiri Tunas Finance, bahwa pada industri pembiayaan yang terkait erat dengan industri otomotif, keberadaan Generasi Y telah menjadi pasar yang digarap dengan serius. Sebagai contoh, dalam memilih kendaraan baru, Generasi Y tidak akan melihat result value seperti Gen X yang pada umumnya mempertanyakan harga jual mobil di kemudian hari.
“Gen Y lebih logis. Artinya, selama mobil ini bagus, tampilannya sesuai yang mereka mau, mereka akan membeli. Nah ke depan, bukan tidak mungkin produk mobil di luar Astra akan lebih tumbuh. Ya kita prediksi dalam 3-4 tahun lagi market share Astra akan turun jadi 50 persen. Ini sejalan dengan pertumbuhan Gen Y yang punya banyak alternatif. Karena dia ingin eksis dan tampil beda,” kata Harjanto.
Menyadari kondisi ini, edukasi dan sosialisasi perusahaan pembayaan tidak lagi hanya berpatokan pada tingkat user, bahkan dimulai dari level di bawah user. Artinya, kata Harjanto, pihaknya mencoba membangun komunikasi melalui media sosial yang biasa digunakan Gen Y, bahkan kepada orang-orang yang dalam 3-4 tahun lagi baru bisa membeli mobil. “Jadi kita mulai edukasi di level ini. Karena mereka yang akan meningkatkan market share di masa depan.”
Namun, hal yang kontras terjadi dalam bidang SDM ketika keberadaan Generasi Y sebagai sebuah angkatan kerja, khususnya dalam industri perbankan di Indonesia belum mendapat perhatian khusus. Vittal Anantatmula, Pakar Manajemen dari Western Carolina University, menyarankan pentingnya melihat isu ini dari sisi kesenjangan generasi (generation gap) yang muncul karena kurangnya pemahaman akan keberadaan generasi ini. Dampaknya secara langsung berpengaruh pada kontribusi generasi dalam lingkungan kerja sehingga diperlukan strategi yang sesuai dengan perilaku, nilai dan etika kerja Gen Y.

  • Baca juga: Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

Recruitment & Mentoring

Untuk memahami keberadaan Generasi Y sebagai talenta potensial, industri perbankan perlu melakukan beberapa strategi, dimulai dari metode rekrutmen, penempatan dan pendampingan (mentoring), eksploitasi dan eksplorasi hingga reward.
Menurut Ryan Kiryanto, sejatinya pola rekrutmen pegawai dengan karakteristik Generasi Y, dilakukan seperti biasanya praktik di perusahaan pada umumnya. Antara lain melalui aplikasi CV, kemudian jika manajemen bank tertarik akan dihubungi untuk dilakukan deep interview. Nah, dari situ kompetensi calon pegawai akan diketahui oleh perusahaan, lalu kemudian akan dicarikan tempat yang sesuai dengan keunggulannya itu.
Namun ada strategi oleh beberapa pakar yang dinilai lebih mumpuni, yakni menggunakan pendekatan konsep pemasaran yang lebih dikenal dengan positioning. Antara lain upaya menarik minat Gen Y terhadap industri perbankan melalui pendekatan langsung ke perguruan tinggi. Ini sejatinya sudah dilakukan sejumlah bank dengan program Bank Goes To Campuss, dan sebagainya.

BERITA TERKAIT

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Diberi Tanggungjawab

Selain pendampingan, atasan di bank dengan bawahan Gen Y dalam pengelolaan program SDM dapat juga mengguna pola vertical development atau pola pengembangan vertikal (PV) sebagai sebuah tantangan bagi Gen Y.
Menurut Ryan, pendekatan ini menantang subyek bersama dengan Gen Y untuk secara aktif bertanggung jawab atas kebutuhan pelatihan untuk menjunjung profesionalismenya. Pada intinya, PV adalah sebuah pendekatan yang menuntut bank memberikan dukungan penuh bagi Gen Y pada saat mereka konsultasi ke SDM untuk meminta dukungan. Dukungan itu bisa berwujud pelatihan, coaching, ataupun program-program lainnya yang dapat membuat mereka dapat mengerjakan tanggung jawabnya.
Misalnya, Ryan memberi contoh bahwa setiap Gen Y yang mempunyai talenta mumpuni diberikan tugas untuk membuat bisnis model di bank agar proses bisnis menjadi lebih cepat tanpa mengabaikan unsur manajemen risiko dan kepatuhan, serta unsur prudential principle. Lantas kemudian, mereka juga dikirim ke perusahaan lain guna melakukan benchmarking.
“Mereka tentu akan senang dengan kesempatan itu. Berikan mereka special assignment. Singkat kata jangan pernah memberikan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutin atau monoton karena mereka pasti akan berontak. Fenomena seperti ini sudah nyata di industri perbankan,” kata Ryan.
Di samping itu, para Gen Y ini juga perlu diberikan reward dengan cara memberikan ruang-ruang untuk kontestasi mereka. Misalnya di internal perusahaan dibuat lomba untuk sebuah temuan baru yang tidak harus full applicative tetapi dapat memberikan benefit bagi bank. Dan hadiahnya, selain sertifikat atau piala, bisa juga dengan memberikan liburan ke luar negeri seperti kunjungan ke laboratorium Microsoft, atau ke Samsung, atau mengunjungi kantor cabang bank bersangkutan di luar negeri. “Ini merangsang kreatifitas mereka untuk terus berkembang dan berinovasi. Jadi uang itu no issue bagi Gen Y, tetapi pengalaman dan pengakuanlah yang lebih penting.”

 
 
 
 
 
Previous Post

Eranya Generasi Melenium

Next Post

Memfasilitasi Para Digital Native

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Sejarah Uang

Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

by Stella Gracia
21 Oktober 2026 - 14:20

INDEF menyoroti fenomena makan tabungan akibat inflasi pangan di atas 5 persen yang membuat rata-rata saldo tabungan di bawah Rp100...

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Terpakai Rp17 Triliun, Bank Mandiri Jelaskan Fasilitas Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin Group

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Menyebar Uang Muka 1 Persen

Menyebar Uang Muka 1 Persen

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance