JAKARTA, Stabilitas—Badan Zakat Nasional meluncurkan Indeks Zakat Nasional (IZN), Selasa (12/12). Indeks ini adalah indikator yang dapat memberikan gambaran peran zakat mengatasi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan mustahik dan menunjukan tahap perkembangan institusi zakat dilihat dari internal kelembagaan, partisipasi masyarakat, maupun dukungan pemerintah.
Direktur Puskas BAZNAS, Irfan Syauqi Beik mengklaim IZN ini merupakan indeks pertama di dunia yang mampu melihat perkembangan institusi zakat. “Dari segi metodologinya ini bisa dikatakan indeks pengukuran zakat pertama di dunia. Karena negara-negara lain tidak ada yang memiliki indeks pengelolaan zakat yang mereka deklarasikan secara resmi. Kalau ada indeks cashflow pengelolaan dana mustahik tetapi kan ketika itu diimplikasikan dan menjadi instrumen kebijakan, itu yang gak ada,”ucapnya kepada Stabilitas.
Dengan menggunakan mix method research serta berbagai skoring penilaian baik makro maupun mikro, metodologi ini dalam waktu dekat siap diuji coba di dua provinsi dan tiga sampai empat kota dan kabupaten.
“Insya Allah yang akan kita lakukan adalah field project di beberapa wilayah untuk kemudian kita hitung indeks zakatnya. Setelah ini, kira-kira minggu depan, akan turun. Dan di 2017 kita akan deklarasikan secara nasional. Paling tidak kalau provinsi sih ada dua sedangkan kota dan kabupaten tiga atau empat”jelas Irfan.
BAZNAS berharap indeks zaka nasional ini bisa segera disosialisasikan terutama kepada badan zakat daerah, agar tujuan membentuki sebuah indikator yang akan menjadi referensi standar kemajuan dan refleksi kinerja perzakatan di Indonesia, yang penerapannya dapat dilakukan secara periodik pada level nasional dan provinsi bisa segera tercapai.
“Kita berharap pertama indeksnya kita bisa sosialisasikan terutama ke teman-teman baznas baik di nasional maupun di daerah. Kita sosialisasikan bahwa sekarang kita punya dan siap untuk mengukur juga nanti. Diukur dan dinilai berdasarkan indeks yang kita buat ini, semoga kalau ini nanti kita lakukan indikasinya adalah akan terjadi penguatan pada kualitas pengelolaan zakat karena dalam hal ini kan kita mengukur masyarakat dunia dan mengukur beberapa aspek yang kemudian nilainya bisa naik,”lanjut Irfan.
Irfan menjelaskan sebelumnya dalam melihat pertumbuhan dan pengelolaan zakat, BAZNAS hanya melihat dari data parsial. “Jadi sebelumnya untuk mengukur kualitas itu tidak ada, jadi secara parsial. Saya dengan salah seorang dosen IPB mengembangkan model yang mengukur kesejahteraan kemiskinan dari persfektif syariah, kita buat ada indeks kesejehteraan, material, dan indeks kemiskinan absolut, itu contoh. Tapi kan itu bicara dampak, bicara pengelolaan itu parsial, jadi segi implikasi,”jelasnya.
BAZNAS berharap metodologi ini bisa segera disosialisasikan dan menjadi contoh bagi pengelolaan zakat di tingkat internasional. Sejak tahun 2010 sampai 2014 terdapat pertumbuhan penerimaan zakat hingga Rp 1,5 triliun, di akhir 2014 peningkatan mencapai Rp 2,77 triliun. Hal ini yang menjadi motivasi BAZNAS untuk terus mengembangkan pengelolaan zakat di tingkat nasional.

















