• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Senin, September 28, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Cognitive Flexibility dan Talent Management

oleh Sandy Romualdus
18 Desember 2021 - 10:34
141
Dilihat
Tantangan Pembelajaran Era “New Normal”
0
Bagikan
141
Dilihat

Laura Valentin, Fakulti LPPI

AKHIR-AKHIR ini muncul sebuah fenomena yang menarik minat para pemerhati isu-isu pengembangan Sumber Daya Manusia. Banyak generasi muda yang belum lama bekerja tiba-tiba resign yang pada akhirnya menerima cap “tidak loyal” kepada perusahaan.

  • Baca juga: OJK Jaga Stabilitas Keuangan dengan SDM Profesional

Tingkat turnover di berbagai perusahaan meningkat beberapa tahun terakhir. Beberapa yang memutuskan resign bahkan tidak peduli dengan besarnya pinalti yang harus dibayarkan atas keputusan resign yang diambil. Lebih parahnya lagi, sebagiannya adalah talenta bagi perusahaan, yang sudah direkrut dengan investasi yang tidak sedikit. Tentu saja hal ini menjadi tantangan tersendiri, terlebih di industri perbankan untuk mengelola generasi yang kita sebut saja “the braver”.

Pengelolaan SDM adalah serangkaian proses yang berkesinambungan dan tidak dapat lepas satu sama lain meliputi Planning, Attaining, Developing  Maintaining, and Retaining (PDMR). Proses pengelolaan talen sendiri berada pada proses Developing. Mencoba menilik berbagai kemungkinan munculnya fenomena “the braver”, ada baiknya kita kembali menguji proses planning dan attaining perusahaan. Bagaimana proses rekrutmennya, kompetensi yang diukur dan alat tes apa yang kita gunakan dalam proses seleksi, bagaimana proses asesmen yang  dilakukan. Perusahaan  perlu juga melihat posisi tawarnya dalam hal remunerasi, kompensasi dan benefit, serta nilai-nilai perusahaan.

BERITA TERKAIT

OJK Jaga Stabilitas Keuangan dengan SDM Profesional

Bank Mandiri Raih Peringkat Pertama pada LinkedIn Top Companies 2023

Inilah Karakter Talenta yang Dibutuhkan Industri Pasca Pandemi

LPPI dan IBS Perkuat Kontribusi Membangun SDM Profesional, Berintegritas, dan Kompeten

Identifikasi talenta yang paling umum digunakan dalam organisasi adalah dengan metode 9 Box Matrix. Kita mengelompokkan para talenta ke dalam 9 kotak kriteria, menggunakan potret masa lalu (kinerja) dan proyeksi masa depan (potensi). Treatment masing-masing penghuni kotak pun berbeda, tergantung posisi kotak talenta. Dapat berupa pemberian job assignment, penugasan dengan unit kerja lain, pemberian kursus tertentu, dan lain sebagainya. Bagi organisasi, kegiatan ini adalah investasi. Treatment yang keliru bisa jadi menyebabkan potensi talenta tidak muncul, yang merupakan sebuah kerugian. Para talenta yang merasa tidak dikembangkan dengan baik selalu memiliki opsi untuk pindah, dan sayangnya opsi ini banyak dipilih.

Kemampuan cognitive flexibility dari perusahaan maupun pegawai menjadi kunci bagi pengelolaan talenta. Secara definisi cognitive flexibility adalah properti intrinsik dari sistem kognitif yang sering dikaitkan dengan kemampuan mental untuk menyesuaikan aktivitas dan kontennya, beralih di antara aturan tugas yang berbeda dan respons perilaku yang sesuai, mempertahankan banyak konsep secara bersamaan dan mengalihkan perhatian internal di antara mereka (William A. Scott, 1962).

  • Baca juga: Bank Mandiri Raih Peringkat Pertama pada LinkedIn Top Companies 2023

Atas dasar definisi tersebut pegawai harus dapat dengan cepat merespons tuntutan perusahaan atas berbagai perubahan yang terjadi khususnya di era digitalisasi. Meningkatkan (upgrade) kemampuan diri adalah cara efektif untuk beradaptasi dan membuat nilai (value) pekerja akan meningkat secara otomatis. Demikian pula perusahaan harus dengan cepat melihat sinyal peringatan baik bersifat eksternal atas kondisi ekosistem bisnis yang menantang, maupun bersifat internal misalnya adanya peringatan angka turnover yang meningkat.

Penyesuaian yang segera dibutuhkan saat ini, adalah menumbuhkan optimisme positif. Organisasi dapat memandang fenomena “the braver”sebagai opportunity bahwa bursa tenaga kerja kita sangat kompetitif dan berkualitas. Selanjutnya bergantung seberapa kemampuan kita mencari yang sesuai dengan value organisasi dan melakukan development yang tepat sesuai potensi  SDM perusahaan yang berharga.

Perusahaan dituntut mencari sistem pengelolaan pegawai talenta yang tidak mengandalkan loyalitas jangka panjang dari pegawainya. Kesalahan yang pada umum terjadi adalah berharap memperoleh hasil yang berbeda dengan upaya yang sama. Mungkin saatnya kita lebih adaptif dalam mengelola SDM, karena sustainability bisnis perusahaan pada dasarnya berlandaskan pada kemampuan perusahaan mengelola SDM-nya.

Perusahaan dapat memilih berbagai pendekatan sebagai wujud penyesuaian atas fenomena SDM belakangan ini. Misalnya dengan memberikan keleluasaan bagi SDM perusahaan untuk memilih tempat bekerja, atau memilih waktu lembur mereka. Di beberapa perusahaan, pegawai diberikan kebebasan untuk bekerja secara remote dan mengatur sendiri waktu kerja mereka, dengan target waktu dan output kerja yang terukur. Hal ini memberikan dampak positif terhadap engagement pegawai terutama pegawai muda dan semangat kepercayaan perusahaan terhadap mereka.

  • Baca juga: Inilah Karakter Talenta yang Dibutuhkan Industri Pasca Pandemi

Opsi lain yang juga bisa menjadi alternatif adalah memberikan opsi lembur yang fleksibel, bisa dilakukan di pagi hari sebelum jam operasional kantor, atau di sore hari setelah jam kerja selesai. Karena pada kenyataannya banyak pegawai yang memilih bekerja lebih pagi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, namun tidak terhitung sebagai overtime.

Upaya ini nampak sepele, namun berarti bagi para talenta muda. Perusahaan dapat melakukan berbagai pendekatan yang tentunya perlu melihat pula pada kesesuaian dengan karakteristik bisnis dan SDM-nya. Yang menjadi titik penting adalah baik perusahaan maupun pegawai perlu sama-sama bergerak dengan cepat menuju keseimbangan baru, yakni dengan pergeseran set mental, pergeseran kognitif, pengalihan/pergeseran tugas, dan pengalihan/pergeseran perhatian yang bertujuan untuk peningkatan nilai bagi individu pegawai maupun perusahaan di era disrupsi ini.***

Tags: Cognitive FlexibilityLaura ValentinSDMTalent Management
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Apapun Pilihannya, Governance yang Utama

Selanjutnya

Mengukur Dampak POJK 12/2021 pada Bank Syariah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

oleh Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

oleh Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

oleh Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

oleh Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

oleh Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

oleh Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Kinerja Finansial Melejit, Bank BSN Rangkul IARMI Perluas Penetrasi Syariah

Akhiri Puasa 28 Tahun, BNI Rayakan Keberhasilan Regenerasi Atlet PBSI di Asian Games 2026

Sentuh Pelajar Prasejahtera: BNI Masuk Ekosistem Kesejahteraan Sosial Lewat Empat Pilar Strategis

Tinggalkan Celengan Tradisional, BNI Bimbing Siswa Sekolah Rakyat Miliki Rekening Bank Formal

Adopsi Filosofi Sumpah Pemuda: BI Galang Sinergi ‘Satu Bahasa’ demi Efisiensi Sistem Pembayaran 2030

Hampir 95 Persen Pemda Masuk Era Digital: BI Beberkan Resep Pengungkit Produktivitas Ekonomi Daerah

Jaga Defisit di Bawah 3 Persen: Kemenkeu dan Bank Indonesia Kunci 5 Pilar Sinergi Hadapi Gejolak Global

Bukan Pengganti Bankir: BTN Beberkan Jurus ‘Digital Coworker’ Pangkas Beban Kerja hingga 80%

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Menyamakan Level Permainan

Mengukur Dampak POJK 12/2021 pada Bank Syariah

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance