CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai pasar kripto Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh investor global, meski basis penggunanya telah menembus 22,93 juta akun.
Stabilitas.id — Di tengah pemulihan harga Bitcoin yang kembali merangsek ke atas level US$80.000, PT Aset Digital Berkat (Tokocrypto) menyoroti anomali pandangan investor global terhadap pasar aset kripto Indonesia yang dinilai masih sangat underrated atau dipandang sebelah mata.
Chief Executive Officer (CEO) Tokocrypto, Calvin Kizana, menegaskan bahwa adopsi aset digital di Indonesia telah melampaui fase eksperimen awal. Klaim ini divalidasi oleh data Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025 yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-7 dari 151 negara untuk tingkat adopsi grassroots—jauh mengungguli Singapura yang bahkan gagal masuk ke dalam daftar 10 besar.
Catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2026 turut memperlihatkan masifnya penetrasi pasar ini, di mana jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital telah mencapai 22,93 juta. Basis investor yang besar tersebut sukses mencetak nilai transaksi hingga Rp20,52 triliun, ditopang oleh ekosistem ekonomi digital nasional yang diproyeksikan mendekati valuasi US$100 miliar.
BERITA TERKAIT
“Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi,” ujar Calvin.
Kritik Terhadap Strategi Ekspansi Global
Calvin menyoroti kesalahan fundamental yang kerap dilakukan proyek kripto global saat berekspansi ke Indonesia. Banyak entitas asing masih menyamaratakan regulasi dan ekspektasi konsumen di seluruh Asia Tenggara, serta mengandalkan strategi influencer marketing agresif untuk mengakuisisi pengguna secara instan.
“Uang bisa membeli awareness, bisa membeli download, bahkan bisa membeli volume sementara. Tapi uang tidak bisa membeli kepercayaan karena kepercayaan tidak bisa dipotong jalan pintas,” tegasnya.
Memasuki fase kematangan pasar, arah pengembangan industri kripto domestik kini bergeser dari sekadar adopsi ritel menuju pembentukan utilitas keuangan yang teregulasi, partisipasi institusional, dan tokenisasi.
Guna memfasilitasi pergeseran fokus tersebut, Tokocrypto terus mempertebal fondasi tata kelola perusahaannya. Entitas yang diawasi langsung oleh OJK ini telah membentengi operasional platform dengan sertifikasi ISO 27001 (sistem manajemen keamanan informasi) dan ISO 27017 (keamanan cloud), serta mempublikasikan laporan Proof of Reserves secara berkala untuk menjamin likuiditas nasabah. ***

















