• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Kolom

Editorial 184: Risiko Global Menarik Perhatian

oleh Sandy Romualdus
31 Maret 2022 - 08:34
9
Dilihat
Editorial 184: Risiko Global Menarik Perhatian
0
Bagikan
9
Dilihat

RODA perekonomian sudah mulai berputar. Setidaknya itulah yang terlihat oleh pelaku usaha. Tak pelak aura optimisme pun terbit, keyakinan bahwa ekonomi akan segera menjalani proses pemuihan muncul.

Semuanya terpusat pada angka pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 yang tercatat sebesar 3,69 persen. Masih minim memang. Namun hal itu tidak dipedulikan pelaku bisnis. Bagi mereka yang terpenting adalah ekonomi sudah tumbuh. Mereka juga tidak peduli rebound-nya rendah karena memang bottom line pertumbuhannya rendah. Yang mereka pedulikan adalah bahwa pertumbuhan ekonomi sudah mulai terbit.

Pandemi memang menjadi sosok kejam yang membuat hampir semua orang di dunia menderita. Krisis kesehatan yang telah merontokkan ekonomi dunia hingga membawanya ke lembah resesi sudah dijalani semua orang di planet ini lewat dari dua tahun. Maka dari itu ketika memasuki periode ketiga dengan tanda-tanda pemulihan sudah terlihat, para hampir semua pihak bisa tersenyum. Meski di tengah-tengah kita varian baru virus corona masih terus muncul dan memberi ancaman.

BERITA TERKAIT

Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Editorial : Evaluasi dan Ekspektasi

Akan tetapi baru sebentar saja bisa bernapas lega, muncul sinyal yang bisa mengganjal situasi tersebut. Ancaman yang justru datang dari kebijakan yang merespons pemulihan itu sendiri. Ya, pemerintah AS lewat otoritas moneternya mengungkapkan akan mengembalikan kebijakannya kembali ke rel semula setelah dua tahun belakangan menerapkan kebijakan ‘tak normal’. The Federal Reserve mengguyur pasar keuangan dengan dana besar sekaligus menetapkan suku bunga utama ke level terendahnya sepanjang masa.

Ketika melihat perekonomiannya sudah mulai pulih, The Fed berencana menormalisasi kebijakan moneternya. Menghentikan guyuran likuiditas sekaligus mulai mengerek suku bunga acuan adalah dua rencana yang sudah terungkap ke publik.

Bank sentral terbesar dunia itu berencana mengurangi quantitative easing sebesar 15 miliar dollar AS dari pembelian rutin 120 miliar dollar AS mulai periode awal 2022 ini. Isu tapering ini terus bergulir dan kini pasar bertaruh terkait peluang kenaikan bunga acuan yang bakal dilakukan lebih cepat. Kenaikan bunga lebih cepat berpotensi mendorong aliran modal keluar dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain The Fed, beberapa negara lain juga sudah lebih memulai excit policy. Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan hingga Rusia termasuk dalam daftar negara yang memperketat moneternya. Hal ini untuk merespons harga-harga yang terus melonjak di negara-negara tersebut.

Ironisnya dampak dari langkah itu malah membuat kebijakan pemulihan ekonomi di Negara-negara lain di dunia jadi terganggu. Indonesia misalnya. Sudah sejak kuartal terakhir 2021 lalu, pemerintah sudah pasang kuda-kuda untuk berlari menyiapkan kebijakan pemulihan ekonomi. Tetapi hasrat itu harus tertahan begitu mendengar adanya rencana tersebut.

Pelaku bisnis menghitung ulang rencana mereka. Bahkan outlook yang sudah disusun menjelang tahun 2021 ditutup, harus terus di-update hingga kini, mengingat ramalan waktu awal kenaikan suku bunga terus berubah.

Dari setidaknya delapan risiko yang mesti dimitigasi, setidaknya perhatian khusus diberikan kepada tiga di antaranya, risiko pasar, risiko likuiditas, dan risiko operasional.

Risiko pasar tentu menjadi concern utama. Sebabnya tentu karena kenaikan suku bunga The Fed akan memicu kenaikan suku bung acuan pada bank-bank sentral lainnya di dunia, untuk menyeimbangkan pasar keuangan mereka. Singkatnya agar dana-dana yang ada di system keuangan mereka tetap bertahan. Imbas selanjutnya adalah pada nilai tukar mereka. Tentu banyak di antara mereka yang akan mengalami depresiasi nilai tukar.

Sampai saat ini untuk memitigasi risiko pasar, BI belum akan merespons langkah The Fed dengan menaikkan juga BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Otoritas Kebon Sirih memilih menyesuaikan giro wajib minimum. Setidaknya sampai Februari.

Risiko likuiditas. Meskipun bank sentral menafikannya tetap akan menjadi hantu yang mengancam indsutri perbankan. Bagaimana tidak, ketika The Federal Reserve baru ancang-ancang saja, pemilik modal sudah pasang posisi. Sebagaimana dilaporkan oleh Bank Indonesia, pada pecan keempat Februari, terdapat aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar keuangan dalam negeri.

Lewat data transaksi yang dihimpun BI pada periode 21 Februari 2022 hingga 24 Februari 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik melakukan aksi jual neto Rp 4,89 triliun. Angka itu didapat  dari jual neto di pasar Surat Berharga Negara sebesar Rp8,23 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp3,33 triliun.

Risiko operasional. Ini adalah risiko bawaan dalam dua atau tiga tahun terakhir ketika di jagad keuangan marak praktik digitalisasi dan perbankan membentuk iini layanan digital banking. Melanjutkan fenomena itu, tahun ini diprediksi bahwa strategi itu akan menapaki fase selanjutnya dengan di saat bermunculan bank digital.

Perbankan tentu harus bersiap menghadapi bermacam kemungkinan yang muncul. Tapi tahun ini para risk manager tentu akan lebih banyak menghitung beragam dampak dari perubahan kebijakan global. Berbeda dengan dua tahun belakangan ini di saat mereka lebih fokus pada mitigasi dari risiko yang bersumber dari faktor domestik, terutama hal-hal terkait kebijakan penangkal pandemi.***

Tags: EditorialRisiko Global Menarik Perhatian
 
 
 
 
Sebelumnya

Telkom Digital Wujudkan Digitalisasi di Ujung Timur

Selanjutnya

Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:16

Oleh : Dr. Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Tanggal 18 Maret 2025 pasar...

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

oleh Stella Gracia
26 Juni 2024 - 15:05

Oleh Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik dan Ekonom UPN Veteran Jakarta Baru-baru ini, Indonesia dikejutkan oleh serangan siber besar-besaran...

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

oleh Sandy Romualdus
21 September 2023 - 16:34

Oleh Ahmed Zulfikar, Relationship Manager LPPI SAAT ini isu perubahan iklim telah menjadi topik hangat yang hampir selalu dibahas dalam...

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

oleh Sandy Romualdus
11 Agustus 2023 - 12:32

Oleh : Novita Yuniarti, Assistant Programmer LPPI SERANGAN siber memiliki dampak yang serius dan menjadi isu kritis dalam digitalisasi keuangan...

Kilas Balik Pandemi COVID-19: Strategi Cermat India yang Terhambat Sistem Pasar Obat-Obatan Dunia

Kilas Balik Pandemi COVID-19: Strategi Cermat India yang Terhambat Sistem Pasar Obat-Obatan Dunia

oleh Sandy Romualdus
3 Juni 2023 - 20:20

Oleh : Baiq Shafira Salsabila, Diospyros Pieter Raphael Suitela, Muhammad Faiz Ramadhan * INDIA adalah salah satu negara berkembang dengan industri farmasi terbesar...

Fenomena Bank Digital: Tren Naik, Harus Diimbangi dengan Literasi Digital

Transformasi Digital vs Literasi Digital

oleh Sandy Romualdus
14 Februari 2023 - 08:10

Oleh Danal Meizantaka Daeanza - Assistant Programmer LPPI Perubahan yang terjadi di dunia selama satu dekade belakangan ini sangat signifikan....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance