RODA perekonomian sudah mulai berputar. Setidaknya itulah yang terlihat oleh pelaku usaha. Tak pelak aura optimisme pun terbit, keyakinan bahwa ekonomi akan segera menjalani proses pemuihan muncul.
Semuanya terpusat pada angka pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 yang tercatat sebesar 3,69 persen. Masih minim memang. Namun hal itu tidak dipedulikan pelaku bisnis. Bagi mereka yang terpenting adalah ekonomi sudah tumbuh. Mereka juga tidak peduli rebound-nya rendah karena memang bottom line pertumbuhannya rendah. Yang mereka pedulikan adalah bahwa pertumbuhan ekonomi sudah mulai terbit.
Pandemi memang menjadi sosok kejam yang membuat hampir semua orang di dunia menderita. Krisis kesehatan yang telah merontokkan ekonomi dunia hingga membawanya ke lembah resesi sudah dijalani semua orang di planet ini lewat dari dua tahun. Maka dari itu ketika memasuki periode ketiga dengan tanda-tanda pemulihan sudah terlihat, para hampir semua pihak bisa tersenyum. Meski di tengah-tengah kita varian baru virus corona masih terus muncul dan memberi ancaman.
Akan tetapi baru sebentar saja bisa bernapas lega, muncul sinyal yang bisa mengganjal situasi tersebut. Ancaman yang justru datang dari kebijakan yang merespons pemulihan itu sendiri. Ya, pemerintah AS lewat otoritas moneternya mengungkapkan akan mengembalikan kebijakannya kembali ke rel semula setelah dua tahun belakangan menerapkan kebijakan ‘tak normal’. The Federal Reserve mengguyur pasar keuangan dengan dana besar sekaligus menetapkan suku bunga utama ke level terendahnya sepanjang masa.
Ketika melihat perekonomiannya sudah mulai pulih, The Fed berencana menormalisasi kebijakan moneternya. Menghentikan guyuran likuiditas sekaligus mulai mengerek suku bunga acuan adalah dua rencana yang sudah terungkap ke publik.
Bank sentral terbesar dunia itu berencana mengurangi quantitative easing sebesar 15 miliar dollar AS dari pembelian rutin 120 miliar dollar AS mulai periode awal 2022 ini. Isu tapering ini terus bergulir dan kini pasar bertaruh terkait peluang kenaikan bunga acuan yang bakal dilakukan lebih cepat. Kenaikan bunga lebih cepat berpotensi mendorong aliran modal keluar dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain The Fed, beberapa negara lain juga sudah lebih memulai excit policy. Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan hingga Rusia termasuk dalam daftar negara yang memperketat moneternya. Hal ini untuk merespons harga-harga yang terus melonjak di negara-negara tersebut.
Ironisnya dampak dari langkah itu malah membuat kebijakan pemulihan ekonomi di Negara-negara lain di dunia jadi terganggu. Indonesia misalnya. Sudah sejak kuartal terakhir 2021 lalu, pemerintah sudah pasang kuda-kuda untuk berlari menyiapkan kebijakan pemulihan ekonomi. Tetapi hasrat itu harus tertahan begitu mendengar adanya rencana tersebut.
Pelaku bisnis menghitung ulang rencana mereka. Bahkan outlook yang sudah disusun menjelang tahun 2021 ditutup, harus terus di-update hingga kini, mengingat ramalan waktu awal kenaikan suku bunga terus berubah.
Dari setidaknya delapan risiko yang mesti dimitigasi, setidaknya perhatian khusus diberikan kepada tiga di antaranya, risiko pasar, risiko likuiditas, dan risiko operasional.
Risiko pasar tentu menjadi concern utama. Sebabnya tentu karena kenaikan suku bunga The Fed akan memicu kenaikan suku bung acuan pada bank-bank sentral lainnya di dunia, untuk menyeimbangkan pasar keuangan mereka. Singkatnya agar dana-dana yang ada di system keuangan mereka tetap bertahan. Imbas selanjutnya adalah pada nilai tukar mereka. Tentu banyak di antara mereka yang akan mengalami depresiasi nilai tukar.
Sampai saat ini untuk memitigasi risiko pasar, BI belum akan merespons langkah The Fed dengan menaikkan juga BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Otoritas Kebon Sirih memilih menyesuaikan giro wajib minimum. Setidaknya sampai Februari.
Risiko likuiditas. Meskipun bank sentral menafikannya tetap akan menjadi hantu yang mengancam indsutri perbankan. Bagaimana tidak, ketika The Federal Reserve baru ancang-ancang saja, pemilik modal sudah pasang posisi. Sebagaimana dilaporkan oleh Bank Indonesia, pada pecan keempat Februari, terdapat aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar keuangan dalam negeri.
Lewat data transaksi yang dihimpun BI pada periode 21 Februari 2022 hingga 24 Februari 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik melakukan aksi jual neto Rp 4,89 triliun. Angka itu didapat dari jual neto di pasar Surat Berharga Negara sebesar Rp8,23 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp3,33 triliun.
Risiko operasional. Ini adalah risiko bawaan dalam dua atau tiga tahun terakhir ketika di jagad keuangan marak praktik digitalisasi dan perbankan membentuk iini layanan digital banking. Melanjutkan fenomena itu, tahun ini diprediksi bahwa strategi itu akan menapaki fase selanjutnya dengan di saat bermunculan bank digital.
Perbankan tentu harus bersiap menghadapi bermacam kemungkinan yang muncul. Tapi tahun ini para risk manager tentu akan lebih banyak menghitung beragam dampak dari perubahan kebijakan global. Berbeda dengan dua tahun belakangan ini di saat mereka lebih fokus pada mitigasi dari risiko yang bersumber dari faktor domestik, terutama hal-hal terkait kebijakan penangkal pandemi.***





.jpg)










