• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Editorial 184: Risiko Global Menarik Perhatian

by Sandy Romualdus
31 Maret 2022 - 08:34
19
VIEWS
Editorial 184: Risiko Global Menarik Perhatian
0
SHARES
19
VIEWS

RODA perekonomian sudah mulai berputar. Setidaknya itulah yang terlihat oleh pelaku usaha. Tak pelak aura optimisme pun terbit, keyakinan bahwa ekonomi akan segera menjalani proses pemuihan muncul.

Semuanya terpusat pada angka pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 yang tercatat sebesar 3,69 persen. Masih minim memang. Namun hal itu tidak dipedulikan pelaku bisnis. Bagi mereka yang terpenting adalah ekonomi sudah tumbuh. Mereka juga tidak peduli rebound-nya rendah karena memang bottom line pertumbuhannya rendah. Yang mereka pedulikan adalah bahwa pertumbuhan ekonomi sudah mulai terbit.

  • Baca juga: Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

Pandemi memang menjadi sosok kejam yang membuat hampir semua orang di dunia menderita. Krisis kesehatan yang telah merontokkan ekonomi dunia hingga membawanya ke lembah resesi sudah dijalani semua orang di planet ini lewat dari dua tahun. Maka dari itu ketika memasuki periode ketiga dengan tanda-tanda pemulihan sudah terlihat, para hampir semua pihak bisa tersenyum. Meski di tengah-tengah kita varian baru virus corona masih terus muncul dan memberi ancaman.

BERITA TERKAIT

Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Editorial : Evaluasi dan Ekspektasi

Akan tetapi baru sebentar saja bisa bernapas lega, muncul sinyal yang bisa mengganjal situasi tersebut. Ancaman yang justru datang dari kebijakan yang merespons pemulihan itu sendiri. Ya, pemerintah AS lewat otoritas moneternya mengungkapkan akan mengembalikan kebijakannya kembali ke rel semula setelah dua tahun belakangan menerapkan kebijakan ‘tak normal’. The Federal Reserve mengguyur pasar keuangan dengan dana besar sekaligus menetapkan suku bunga utama ke level terendahnya sepanjang masa.

Ketika melihat perekonomiannya sudah mulai pulih, The Fed berencana menormalisasi kebijakan moneternya. Menghentikan guyuran likuiditas sekaligus mulai mengerek suku bunga acuan adalah dua rencana yang sudah terungkap ke publik.

Bank sentral terbesar dunia itu berencana mengurangi quantitative easing sebesar 15 miliar dollar AS dari pembelian rutin 120 miliar dollar AS mulai periode awal 2022 ini. Isu tapering ini terus bergulir dan kini pasar bertaruh terkait peluang kenaikan bunga acuan yang bakal dilakukan lebih cepat. Kenaikan bunga lebih cepat berpotensi mendorong aliran modal keluar dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain The Fed, beberapa negara lain juga sudah lebih memulai excit policy. Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan hingga Rusia termasuk dalam daftar negara yang memperketat moneternya. Hal ini untuk merespons harga-harga yang terus melonjak di negara-negara tersebut.

Ironisnya dampak dari langkah itu malah membuat kebijakan pemulihan ekonomi di Negara-negara lain di dunia jadi terganggu. Indonesia misalnya. Sudah sejak kuartal terakhir 2021 lalu, pemerintah sudah pasang kuda-kuda untuk berlari menyiapkan kebijakan pemulihan ekonomi. Tetapi hasrat itu harus tertahan begitu mendengar adanya rencana tersebut.

  • Baca juga: EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Pelaku bisnis menghitung ulang rencana mereka. Bahkan outlook yang sudah disusun menjelang tahun 2021 ditutup, harus terus di-update hingga kini, mengingat ramalan waktu awal kenaikan suku bunga terus berubah.

Dari setidaknya delapan risiko yang mesti dimitigasi, setidaknya perhatian khusus diberikan kepada tiga di antaranya, risiko pasar, risiko likuiditas, dan risiko operasional.

Risiko pasar tentu menjadi concern utama. Sebabnya tentu karena kenaikan suku bunga The Fed akan memicu kenaikan suku bung acuan pada bank-bank sentral lainnya di dunia, untuk menyeimbangkan pasar keuangan mereka. Singkatnya agar dana-dana yang ada di system keuangan mereka tetap bertahan. Imbas selanjutnya adalah pada nilai tukar mereka. Tentu banyak di antara mereka yang akan mengalami depresiasi nilai tukar.

Sampai saat ini untuk memitigasi risiko pasar, BI belum akan merespons langkah The Fed dengan menaikkan juga BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Otoritas Kebon Sirih memilih menyesuaikan giro wajib minimum. Setidaknya sampai Februari.

Risiko likuiditas. Meskipun bank sentral menafikannya tetap akan menjadi hantu yang mengancam indsutri perbankan. Bagaimana tidak, ketika The Federal Reserve baru ancang-ancang saja, pemilik modal sudah pasang posisi. Sebagaimana dilaporkan oleh Bank Indonesia, pada pecan keempat Februari, terdapat aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar keuangan dalam negeri.

Lewat data transaksi yang dihimpun BI pada periode 21 Februari 2022 hingga 24 Februari 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik melakukan aksi jual neto Rp 4,89 triliun. Angka itu didapat  dari jual neto di pasar Surat Berharga Negara sebesar Rp8,23 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp3,33 triliun.

  • Baca juga: Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Risiko operasional. Ini adalah risiko bawaan dalam dua atau tiga tahun terakhir ketika di jagad keuangan marak praktik digitalisasi dan perbankan membentuk iini layanan digital banking. Melanjutkan fenomena itu, tahun ini diprediksi bahwa strategi itu akan menapaki fase selanjutnya dengan di saat bermunculan bank digital.

Perbankan tentu harus bersiap menghadapi bermacam kemungkinan yang muncul. Tapi tahun ini para risk manager tentu akan lebih banyak menghitung beragam dampak dari perubahan kebijakan global. Berbeda dengan dua tahun belakangan ini di saat mereka lebih fokus pada mitigasi dari risiko yang bersumber dari faktor domestik, terutama hal-hal terkait kebijakan penangkal pandemi.***

Tags: EditorialRisiko Global Menarik Perhatian
 
 
 
 
 
Previous Post

Telkom Digital Wujudkan Digitalisasi di Ujung Timur

Next Post

Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance