• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Jumat, Agustus 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Editorial 184: Risiko Global Menarik Perhatian

oleh Sandy Romualdus
31 Maret 2022 - 08:34
19
Dilihat
Editorial 184: Risiko Global Menarik Perhatian
0
Bagikan
19
Dilihat

RODA perekonomian sudah mulai berputar. Setidaknya itulah yang terlihat oleh pelaku usaha. Tak pelak aura optimisme pun terbit, keyakinan bahwa ekonomi akan segera menjalani proses pemuihan muncul.

Semuanya terpusat pada angka pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 yang tercatat sebesar 3,69 persen. Masih minim memang. Namun hal itu tidak dipedulikan pelaku bisnis. Bagi mereka yang terpenting adalah ekonomi sudah tumbuh. Mereka juga tidak peduli rebound-nya rendah karena memang bottom line pertumbuhannya rendah. Yang mereka pedulikan adalah bahwa pertumbuhan ekonomi sudah mulai terbit.

  • Baca juga: Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

Pandemi memang menjadi sosok kejam yang membuat hampir semua orang di dunia menderita. Krisis kesehatan yang telah merontokkan ekonomi dunia hingga membawanya ke lembah resesi sudah dijalani semua orang di planet ini lewat dari dua tahun. Maka dari itu ketika memasuki periode ketiga dengan tanda-tanda pemulihan sudah terlihat, para hampir semua pihak bisa tersenyum. Meski di tengah-tengah kita varian baru virus corona masih terus muncul dan memberi ancaman.

BERITA TERKAIT

Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Editorial : Evaluasi dan Ekspektasi

Akan tetapi baru sebentar saja bisa bernapas lega, muncul sinyal yang bisa mengganjal situasi tersebut. Ancaman yang justru datang dari kebijakan yang merespons pemulihan itu sendiri. Ya, pemerintah AS lewat otoritas moneternya mengungkapkan akan mengembalikan kebijakannya kembali ke rel semula setelah dua tahun belakangan menerapkan kebijakan ‘tak normal’. The Federal Reserve mengguyur pasar keuangan dengan dana besar sekaligus menetapkan suku bunga utama ke level terendahnya sepanjang masa.

Ketika melihat perekonomiannya sudah mulai pulih, The Fed berencana menormalisasi kebijakan moneternya. Menghentikan guyuran likuiditas sekaligus mulai mengerek suku bunga acuan adalah dua rencana yang sudah terungkap ke publik.

Bank sentral terbesar dunia itu berencana mengurangi quantitative easing sebesar 15 miliar dollar AS dari pembelian rutin 120 miliar dollar AS mulai periode awal 2022 ini. Isu tapering ini terus bergulir dan kini pasar bertaruh terkait peluang kenaikan bunga acuan yang bakal dilakukan lebih cepat. Kenaikan bunga lebih cepat berpotensi mendorong aliran modal keluar dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain The Fed, beberapa negara lain juga sudah lebih memulai excit policy. Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan hingga Rusia termasuk dalam daftar negara yang memperketat moneternya. Hal ini untuk merespons harga-harga yang terus melonjak di negara-negara tersebut.

Ironisnya dampak dari langkah itu malah membuat kebijakan pemulihan ekonomi di Negara-negara lain di dunia jadi terganggu. Indonesia misalnya. Sudah sejak kuartal terakhir 2021 lalu, pemerintah sudah pasang kuda-kuda untuk berlari menyiapkan kebijakan pemulihan ekonomi. Tetapi hasrat itu harus tertahan begitu mendengar adanya rencana tersebut.

  • Baca juga: EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Pelaku bisnis menghitung ulang rencana mereka. Bahkan outlook yang sudah disusun menjelang tahun 2021 ditutup, harus terus di-update hingga kini, mengingat ramalan waktu awal kenaikan suku bunga terus berubah.

Dari setidaknya delapan risiko yang mesti dimitigasi, setidaknya perhatian khusus diberikan kepada tiga di antaranya, risiko pasar, risiko likuiditas, dan risiko operasional.

Risiko pasar tentu menjadi concern utama. Sebabnya tentu karena kenaikan suku bunga The Fed akan memicu kenaikan suku bung acuan pada bank-bank sentral lainnya di dunia, untuk menyeimbangkan pasar keuangan mereka. Singkatnya agar dana-dana yang ada di system keuangan mereka tetap bertahan. Imbas selanjutnya adalah pada nilai tukar mereka. Tentu banyak di antara mereka yang akan mengalami depresiasi nilai tukar.

Sampai saat ini untuk memitigasi risiko pasar, BI belum akan merespons langkah The Fed dengan menaikkan juga BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Otoritas Kebon Sirih memilih menyesuaikan giro wajib minimum. Setidaknya sampai Februari.

Risiko likuiditas. Meskipun bank sentral menafikannya tetap akan menjadi hantu yang mengancam indsutri perbankan. Bagaimana tidak, ketika The Federal Reserve baru ancang-ancang saja, pemilik modal sudah pasang posisi. Sebagaimana dilaporkan oleh Bank Indonesia, pada pecan keempat Februari, terdapat aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar keuangan dalam negeri.

Lewat data transaksi yang dihimpun BI pada periode 21 Februari 2022 hingga 24 Februari 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik melakukan aksi jual neto Rp 4,89 triliun. Angka itu didapat  dari jual neto di pasar Surat Berharga Negara sebesar Rp8,23 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp3,33 triliun.

  • Baca juga: Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Risiko operasional. Ini adalah risiko bawaan dalam dua atau tiga tahun terakhir ketika di jagad keuangan marak praktik digitalisasi dan perbankan membentuk iini layanan digital banking. Melanjutkan fenomena itu, tahun ini diprediksi bahwa strategi itu akan menapaki fase selanjutnya dengan di saat bermunculan bank digital.

Perbankan tentu harus bersiap menghadapi bermacam kemungkinan yang muncul. Tapi tahun ini para risk manager tentu akan lebih banyak menghitung beragam dampak dari perubahan kebijakan global. Berbeda dengan dua tahun belakangan ini di saat mereka lebih fokus pada mitigasi dari risiko yang bersumber dari faktor domestik, terutama hal-hal terkait kebijakan penangkal pandemi.***

Tags: EditorialRisiko Global Menarik Perhatian
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Telkom Digital Wujudkan Digitalisasi di Ujung Timur

Selanjutnya

Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

oleh Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

oleh Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

oleh Sandy Romualdus
18 Juni 2026 - 10:09

Oleh : Dimyauddin, Peneliti LPPI Bayangkan ada seorang petani peserta asuransi syariah di Nusa Tenggara yang gagal panen karena kekeringan...

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:16

Oleh : Dr. Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Tanggal 18 Maret 2025 pasar...

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

oleh Stella Gracia
26 Juni 2024 - 15:05

Oleh Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik dan Ekonom UPN Veteran Jakarta Baru-baru ini, Indonesia dikejutkan oleh serangan siber besar-besaran...

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

oleh Sandy Romualdus
21 September 2023 - 16:34

Oleh Ahmed Zulfikar, Relationship Manager LPPI SAAT ini isu perubahan iklim telah menjadi topik hangat yang hampir selalu dibahas dalam...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Potret Bankir Millenial dan Gen Z

    Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

BNI Hadirkan Akses Eksklusif Menikmati Andrea Bocelli “Romanza” di Indonesia

Kolaborasi Bank BSN dan BAZNAS, ZIS Bakal Mudah Dibayar Lewat Bale Syariah

Kemenkeu Peduli Salurkan Bantuan Logistik Rp 565,2 Juta untuk Pengungsi Gempa Nusa Tenggara Timur

Komisi XI DPR dan Kemenkeu Tinjau Gempa Flores: Pemulihan Bencana Tidak Berhenti di Fase Tanggap Darurat

RAPBN 2027 Targetkan Ekonomi Tumbuh 6%: Wamenkeu Suahasil Buka-Bukaan Strategi Efisiensi Anggaran

ULN Swasta Masih Kontraksi, Penarikan Utang Pemerintah Kuartal II/2026 Melambat

Sabet IACA Award 2026, BI Manfaatkan Limbah Racik Uang Kertas Jadi Cendera Mata dan Energi

Terintegrasi Aplikasi OCTO, KKI Ritel CIMB Niaga Fasilitasi Pembayaran QRIS

Rasio LaR Turun 145 Bps, BRI Jaga NPL Coverage Tebal di Level 179,45%

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

Round Up : Perubahan Kebijakan dalam Sorotan

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance