Oleh Syarif Fadilah
Dalam budaya ketimuran, seperti di Indonesia, perempuan memiliki tempat istimewa, namun tidak jika berada di tempat kerja. Di sini, hingga beberapa belas tahun lalu, perempuan masih mendapatkan perlakuan beda ketika mengejar karier.
Krisis yang terjadi beberapa kali dalam perekonomian global dalam sepuluh tahun terakhir, akan tetapi ,telah memberi pelajaran bahwa menafikan perempuan dalam perusahaan adalah sebuah kesalahan yang dapat menimbulkan sederet risiko di masa depan.
Pelaku ekonomi di Barat sudah menyadari hal itu dan mulai merangkul lebih banyak perempuan untuk menduduki jabatan-jabatan strategis dan yang berhubungan dengan pengendalian risiko bisnis. Sebelum itu, dominannya kaum Adam di jabatan-jabatan strategis di perusahaan-perusahaan tidak bisa dipisahkan dengan kecenderungan perusahaan itu untuk mengambil risiko secara berlebihan dan mengabaikan manajemen risiko yang memadai.
Seorang ahli Matematikan dan Statistik dari Birkbeck College, Universitas London, Anne Sibert pernah menulis sebuah artikel yang menyebutkan bahwa peningkatan testosteron –yang hanya dimiliki oleh laki-laki, telah mendorong pengambilan risiko yang lebih besar dalam industri keuangan. “Dominannya laki-laki dalam pengambilan keputusan di institusi keuangan mendorong kecenderungan untuk mengambil risiko yang berlebihan, dan itulah jantung kekacauan (ekonomi) yang terjadi,” kata dia.
Di AS, gelombang perempuan-perempuan menduduki jabatan penting dalam pengelolaan risiko dimulai ketika Pamela Rogers memasuki bidang itu di General Motors, perusahaan otomotif terkemuka saat itu pada awal 1980-an. Sejak saat itu, dia tidak pernah meninggalkan kawasan manajemen risiko hingga mengatarkannya pada jabatan sebagai Vice President, Enterprise Risk and Insurance Management di Weight Watchers International, perusahaan publik di bidang kesehatan dan SDM berbasis di New York.
Akan tetapi, krisis pula yang mengakibatkan perusahaan mengurangi jumlah karyawan perempuan bersamaan dengan pengrumahan karyawan massal.
Pada 2012, Grant Thornton International Business Report mengeluarkan laporan bahwa tahun itu jumlah perempuan di jajaran manajemen senior hanya mencapai 21 persen dari populasi perusahaan global, atau hanya 2 persen lebih tinggi dari tahun 2004. Sementara itu, sebuah studi 2010 Catalyst mengungkapkan bahwa hanya 2,4 persen dari daftar Fortune 500 yang berisi jajaran eksekutif perusahaan adalah perempuan.
Asosiasi Perusahaan Asuransi Inggris (ABI) mengeluarkan rekomendasi bahwa perusahaan-perusahaan besar di sana harus mempekerjakan lebih banyak perempuan. Bahkan asosiasi itu mempromosikan perempuan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi di manajemen dan mengatakan bahwa langkah itu akan meningkatkan manajemen risiko perusahaan
Di Indonesia
Gelombang itu tampaknya juga terjadi di Indonesia. Kini, jabatan-jabatan penting di perbankan yang terkait dengan pengendalian risiko banyak dipegang oleh perempuan. Pada 10 bank beraset terbesar, satu dari lima orang di jajaran dewan direktur diisi oleh perempuan. Bahkan pada beberapa bank angkanya ada yang mencapai separo dari jumlah direksi.
Sebut saja, Bank BII yang menempatkan lima eksekutif perempuannya dari delapan anggota dewan direksi yang mana Dhien Tjahajani menduduki posisi pemimpin dalam urusan hukum dan kepatuhan. Atau Bank Permata yang memberikan tempat pada empat perempuan dalam jajaran direksi yang berjumlah sembilan orang dengan Mirah Wirjoatmodjo sebagai pejabat yang mengurusi kepatuhan. Bahkan bisa disimpulkan bahwa jabatan Direktur Kepatuhan atau yang berkaitan dengan manajemen risiko, hampir semua dipegang oleh perempuan.
Menurut pengamat ekonom Aviliani, keputusan untuk menempatkan perempuan dalam posisi kunci pengendalian risiko tepat. Menurut dia, ketika seorang perempuan menduduki posisi direktur kepatuhan dalam sebuah bank, mereka akan menerapkan standar prosedur dan tata tertib yang lebih ketat. Dengan menjaga fungsi kepatuhan berjalan sesuai aturan yang berlaku maka secara langsung keberadaan direktur perempuan bisa mencegah munculnya potensi risiko operasional lebih dini.
Contohnya adalah risiko operasional yang selalu menghantui perbankan sepanjang waktu. Sifat dasar perempuan yang tidak mudah tergiur dengan materi dan jabatan menjadi penyebab dari tereduksinya risiko operasional di sebuah bank. “Umumnya, perempuan di bank cenderung membelanjakan sesuatu dari gajinya sendiri. Hanya segelintir saja yang berpikiran ingin memenuhi kebutuhan gaya hidupnya yang supermewah,” kata perempuan yang juga menjadi Komisaris di Bank Mandiri ini.
Berbicara soal perempuan di perbankan Indonesia, terpaksa kita harus mengulas pula titik hitam ketika Malinda Dee, seorang manajer Citibank, membobol dana nasabah premium 2011 lalu. Akan tetapi, hal itu tidak menimbulkan kerusakan yang berarti pada citra perempuan yang mampu mencegah terjadinya fraud.
Ketelitian kaum Hawa dan kemampuan menjaga diri juga membuat kemungkinan tergelincir pada mereka lebih kecil dari laki-laki pada umumnya. Dalam mengambil keputusan, perempuan juga lebih mengutamakan perasaan, sehingga putusan yang keluar sudah melalui pertimbangan masak. Sementara laki-laki, cenderung mengutamakan rasional dan hanya sedikit yang melibatkan unsur perasaan. ”Meski wanita lebih melibatkan perasaan dalam setiap langkahnya, bukan berarti wanita tidak berani mengambil keputusan,” kata dia.
Angela Minzoni Alessio, PhD, ahli antropologi bisnis dan industri dari The Ecole Centrale di Paris Prancis, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media yang mengupas soal manajemen proyek bahwa perempuan dilahirkan untuk multi-tasking.
Menurut dia, melalui masa dari satu generasi ke generasi lain dan terlepas dari budaya nasional, perempuan telah dilatih bertanggung jawab untuk merawat kehidupan –kehidupan mereka sendiri sebagai pengasuh serta untuk kehidupan anak-anak mereka.
Perempuan secara tradisional telah dimasukkan ke dalam situasi untuk peduli tentang hal-hal yang berbeda pada saat yang sama: anak, rumah tangga (termasuk manajemen anggaran), pekerjaan profesional, merawat keluarga dan kerabat, dan lain-lain.
“Hal ini telah mengajarkan mereka untuk memiliki rasa pragmatis akut dan untuk mengembangkan mekanisme spontan dalam mendapatkan dan melintasi berbagai sumber informasi. Konteks ini juga telah meningkatkan kapasitas multidimensi perempuan dalam soal mendengarkan sesuatu,” kata Angela.
***
Manajemen Risiko: Antara Laki-laki dan perempuan
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam memandang manajemen risiko sudah dimulai sejak dari hulu, dengan cara yang terintegrasi untuk melihat manajemen dan strategi pada waktu yang sama. Bagi wanita, manajemen risiko lebih dilihat sebagai tantangan kolektif ketimbang individu, dengan tujuan untuk menciptakan kebijakan yang berkelanjutan stakeholder daripada mengembangkan langkah baru untuk kekuatan pribadi.
Contoh non-risiko terlihat pada seorang konduktor orkestra perempuan. Jika kita perhatikan gerakannya dan ekspresi konduktor perempuan cenderung ke arah mendengarkan dan harmonisasi pemain. Tidak heroik, agak berjingkrak, staccato, gerakan hampir ingar-bingar seperti yang biasa dilakukan sebagian besar konduktor orkestra laki-laki.
Jika kita merefleksikan sikap ini dengan manajemen risiko, kita mengamati wanita akan cenderung kurang impulsif dan lebih bersedia untuk mendengarkan dan secara eksplisit mengakui perasaan seperti bahaya dan ketakutan. Sikap ini sama juga menguntungkan bagi mengungkap kesalahan, suatu langkah penting dalam manajemen risiko. Namun demikian, karena konteks sosial gender di mana risiko tertanam, kita masih menemukan wanita mengadopsi standar laki-laki.
Contoh lain yang menyangkut mengelola risiko yang nyata adalah soal strategis dan kompetitif intelijen. Dalam bidang ini, laki-laki cenderung untuk mereproduksi militer atau lebih agresif-defensif seperti pola maskulin tradisional pada umumnya. Sedangkan wanita tampaknya merancang pendekatan khusus untuk risiko berwujud berdasarkan koordinasi dinamis, sumber dan jaringan.
Dikutip dari wawancara Angela Minzoni Alessio, pakar antropologi industrial and bisnis dari The Ecole Centrale in Paris, pada www.pm4girls.elizabeth-harrin.com.















