Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tren penggalangan dana (fundraising) di pasar modal domestik masih menunjukkan performa solid hingga akhir Maret 2026. Tercatat, nilai fundraising korporasi secara year-to-date (ytd) telah menembus angka Rp51,96 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 53 rencana penawaran umum yang masuk dalam daftar antrean (pipeline). Dari total tersebut, sebanyak 15 di antaranya merupakan rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
BERITA TERKAIT
“Pasar modal dalam negeri terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha,” ujar Hasan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Senin (6/4/2026).
Sejalan dengan data OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan adanya kenaikan jumlah calon emiten yang bersiap melantai. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa dari 12 perusahaan yang ada di pipeline bursa, mayoritas didominasi oleh perusahaan dengan aset skala besar (di atas Rp250 miliar).
“Berdasarkan klasifikasi aset yang mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat sebelas entitas dengan aset skala besar dan satu entitas skala menengah yang bersiap untuk IPO,” kata Nyoman.
Peta Sektoral Calon Emiten
Calon emiten yang tengah mengantre berasal dari latar belakang industri yang beragam. Sektor konsumsi bukan siklikal menjadi penyumbang terbanyak dalam daftar antrean saat ini. Berikut adalah rincian sektor perusahaan dalam pipeline IPO BEI:
| Sektor Usaha | Jumlah Perusahaan |
| Konsumsi Bukan Siklikal | 3 |
| Kesehatan | 2 |
| Infrastruktur | 2 |
| Teknologi | 2 |
| Energi | 1 |
| Keuangan | 1 |
| Transportasi & Logistik | 1 |
Kehadiran emiten-emiten beraset jumbo di sektor infrastruktur dan teknologi diharapkan mampu memberikan sentimen positif bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) serta meningkatkan likuiditas pasar di kuartal II/2026. Diversifikasi sektor ini juga mencerminkan kepercayaan dunia usaha terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah volatilitas global. ***
















