Stabiitas.id – Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memperingatkan bahwa peringkat utang Indonesia berisiko melemah akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Posisi Indonesia dinilai lebih rentan dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam, terutama akibat tekanan pada pos belanja subsidi energi.
Saat ini, peringkat utang Indonesia masih bertengger di level BBB dengan outlook stabil. Namun, S&P menyoroti risiko fiskal yang membayangi seiring lonjakan harga energi global yang berpotensi memperlebar defisit anggaran.
“Kenaikan harga energi meningkatkan pembayaran subsidi anggaran, sehingga membebani defisit fiskal Indonesia,” tulis analis S&P Global dalam laporan risetnya, dikutip Jumat (17/4/2026).
BERITA TERKAIT
S&P Global memprediksi gangguan pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz akan berlangsung selama berbulan-bulan. Meskipun ketegangan diprediksi mulai melandai pada April ini, kerusakan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah membuat normalisasi produksi minyak dan gas membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Kondisi tersebut diperparah dengan potensi kenaikan suku bunga pasar jika inflasi domestik melonjak akibat harga impor minyak yang mahal. Hal ini tidak hanya meningkatkan beban pembayaran bunga utang pemerintah, tetapi juga berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit).
Kompensasi Harga Komoditas
Meskipun dihantui risiko fiskal, S&P mencatat bahwa kenaikan harga komoditas global dapat menjadi bantalan bagi matriks kredit eksternal Indonesia. Ekspor non-migas Indonesia, seperti minyak sawit (CPO), nikel, kendaraan, hingga panel surya, diproyeksikan tetap tumbuh tahun ini.
“Ekspor Indonesia didukung oleh penjualan nikel dan CPO, namun momentumnya sedikit diredam oleh penurunan penjualan produk energi seperti batu bara dan gas alam,” tambah laporan tersebut.
Lembaga tersebut memandang bahwa kenaikan harga komoditas secara luas akan membantu menahan tekanan terhadap peringkat utang dalam jangka pendek. Jika situasi global kembali normal, tren penguatan ekspor ini diharapkan mampu membalikkan matriks kredit Indonesia yang sempat memburuk akibat volatilitas harga energi global. ***

















