Stabilitas.id – Indonesia mendapatkan pengakuan internasional sebagai salah satu negara dengan posisi ketahanan energi paling stabil di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Laporan terbaru dari majalah ekonomi bergengsi asal Inggris, The Economist, menempatkan Indonesia dalam kategori low exposure, strong buffer.
Status tersebut menandakan bahwa Indonesia memiliki paparan risiko yang rendah terhadap guncangan energi global, namun didukung oleh bantalan kebijakan dan sumber daya domestik yang kokoh. Posisi ini membuat Indonesia dinilai lebih tangguh dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, yang lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global.
“Beberapa negara, termasuk Indonesia, tampak relatif terisolasi dari dampak buruk berkat perpaduan sumber daya energi domestik dan kebijakan bantalan yang kuat,” tulis The Economist dalam laporan bertajuk “Which country is the biggest loser from the energy shock“, dikutip Selasa (24/3/2026).
BERITA TERKAIT
Laporan tersebut selaras dengan kondisi fundamental dalam negeri. Indonesia memiliki cadangan minyak terbukti yang mencapai 4,4 miliar barel, yang diproyeksikan cukup untuk memperkuat ketahanan energi nasional hingga 10 tahun ke depan.
Dalam jangka menengah, posisi Indonesia lebih aman dibanding Vietnam. Didukunng oleh langkah diversifikasi energi melalui panas bumi, tenaga surya, dan dorongan kendaraan listrik sudah berada di jalur yang tepat.
Rekomendasi Internasional: Menekan Permintaan
Meskipun posisi Indonesia relatif aman, Badan Energi Internasional (IEA) pada 20 Maret 2026 tetap mengimbau negara-negara untuk melakukan langkah antisipasi guna mengurangi tekanan pada konsumen. Beberapa rekomendasi segera yang diusulkan antara lain:
-
Efisiensi Transportasi: Meminimalkan penggunaan transportasi darat dan udara.
-
Fleksibilitas Kerja: Menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home) jika memungkinkan.
-
Transisi Peralatan: Peralihan penggunaan kompor gas ke kompor listrik untuk mengurangi ketergantungan pada LPG.
Konsumsi Bijak di Tengah Ketidakpastian
Meskipun memiliki skor ketahanan (resilience score) yang tinggi, Hamid mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan tetap bijak dalam mengonsumsi energi. Hal ini penting untuk mencegah timbulnya kerentanan baru akibat dampak geopolitik jangka pendek yang sulit diprediksi.
Stabilitas energi yang terjaga diharapkan mampu menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi nasional tetap positif, sekaligus memberikan sentimen positif bagi para pelaku bisnis dan investor yang melihat Indonesia sebagai “titik aman” di tengah ketidakpastian global. ***















