Pemerintah mengantisipasi terjadinya repricing pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) sebagai imbas dari kenaikan suku bunga The Fed ke level 3,75%-4,00%.
Stabilitas.id – Manuver pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diproyeksikan membawa efek rambatan terhadap beban pembiayaan utang Indonesia. Pemerintah secara terbuka mengakui bahwa kenaikan suku bunga global ini bakal memicu repricing atau penyesuaian tingkat imbal hasil (yield) pada instrumen Surat Utang Negara (SUN).
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memandang perubahan konstelasi suku bunga global tersebut pasti memengaruhi kalkulasi harga dan biaya penerbitan obligasi pemerintah. “Ya, saya kira itu tentu saja ada repricing ya, tapi saya kira kita masih dalam level yang wajar lah,” tegas Juda saat ditemui awak media di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui penerbitan obligasi untuk menambal celah anggaran sejatinya masih cukup masif. Perubahan ekuilibrium suku bunga global otomatis mendikte tingkat yield yang wajib ditawarkan pemerintah demi menjaga selera investor asing maupun domestik. Menyikapi tantangan berat ini, pemerintah bersiasat mengoptimalkan diversifikasi sumber pembiayaan, salah satunya dengan mempertahankan penerbitan instrumen Panda Bond yang berdenominasi yuan di pasar modal Cina.
BERITA TERKAIT
Menyangkut rencana penyerapan sisa kuota penerbitan global bond pemerintah yang saat ini berkisar di angka US$2 miliar, Juda memilih untuk menahan rincian waktu eksekusinya. Pihaknya berjanji akan segera memberikan pembaruan informasi terkait jadwal eksekusi obligasi valas tersebut.
Respons The Fed dan Reaksi Pasar Obligasi
Keputusan The Fed mengerek suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% pada Rabu (16/9/2026) memang menjadi katalis utama gejolak pasar keuangan global pekan ini. Manuver agresif yang pertama kali terjadi sejak Juli 2023 tersebut lahir dari kekhawatiran atas laju inflasi AS yang masih membandel di atas level 3 persen selama setahun terakhir.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa pengetatan ini mutlak diperlukan demi menjinakkan harga kembali ke target jangka panjang bank sentral. “Kami mengurangi tingkat akomodasi kebijakan agar kondisi keuangan dan kredit lebih sesuai dengan tujuan akhir kami. Tindakan hari ini menunjukkan bahwa kami serius menjaga stabilitas harga,” papar Warsh.
Pernyataan lugas Warsh terkait pengurangan akomodasi kebijakan langsung memantik spekulasi tajam di kalangan pelaku pasar. Kepala Ekonom Morgan Stanley Michael Gapen menangkap sinyal hawkish yang sangat kuat dari retorika pemimpin bank sentral tersebut. “Jika ketua The Fed menilai kebijakan saat ini masih akomodatif, berarti masih ada pekerjaan yang harus dilakukan,” analisis Gapen.
Pasar surat utang AS merespons instan sentimen pengetatan tersebut dengan aksi jual. Tingkat imbal hasil obligasi US Treasury bertenor dua tahun terpantau langsung melonjak lebih dari 12 basis poin ke level 4,73 persen. Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun ikut terbang menembus batas psikologis 5 persen, mencerminkan tingginya ekspektasi pasar terhadap era suku bunga tinggi yang lebih panjang. ***

















