• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Rabu, Oktober 28, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Mereka Butuh Pengakuan, Bukan Financial

by Sandy Romualdus
26 Maret 2015 - 00:00
61
VIEWS
Mereka Butuh Pengakuan, Bukan Financial
0
SHARES
61
VIEWS

Apa pandangan Anda terkait dengan pergeseran Generasi saat ini, yakni dari Gen X, Gen Y, hingga Gen Z?

Kita harus bisa benar-benar mengidentifikasi perubahan antar generasi dari dulu mulai sebelum Baby Boomers, Generasi X, sekarang Generasi Y, dan nantinya Generasi Z. Karena itu teriring dengan perubahan perilaku yang amat dramatik, di mana tipologi dari Gen Y itu adalah serba cepat, tidak mau bertele-tele, dan hidup dengan alam yang serba pragmatis. Jadi Gen Y ini identik dengan gadget.
Jadi perusahaan-perusahaan harus bisa atau mampu mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan objektif dari mereka yang masuk kategori Gen Y. Sekali perusahaan-perusahaan tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka, maka cepat atau lambat mereka akan ditinggal pergi oleh Gen Y. Pada dasarnya Gen Y ini punya talenta-talenta tertentu, mereka inovatif, kreatif. Tetapi kalau daya inovatif dan kreatif ini tidak diakomodasi, maka mereka akan kabur ke tempat lain yang memberikan opportunity untuk dia berinovasi. Ini selaras dengan tren turn over pegawai di perusahaan-perusahaan termasuk di perbankan.
Bisa dicek, sekarang ini ada kenaikan turn over pegawai. Dan terutama pegawai-pegawai muda. Definisi pegawai muda adalah mereka yang lama kerjanya di bawah lima tahun. Mereka ini adalah fresh graduate yang sedang mencari bentuk. Kemana sesungguhnya mereka akan berkarya secara permanen di kemudian hari. Boleh jadi dalam lima tahun pertama itu dia baru melakukan eksplorasi saja untuk mereka sampai pada satu titik, dan berkesimpulan inilah bidang kerja saya yang sesungguhnya. Jadi ini yang membuat turn over pegawai di industri itu tinggi. Kalau tidak salah, tingkat turn over di semua industri saat ini sekitar 12 persen per tahun. Jadi kalau perusahaan tidak memenuhi kebutuhan Gen Y ini, mereka akan frustrasi dan apply ke tempat lain.

Untuk industri perbankan, apa yang harus disiapkan untuk Gen Y ini?

Kebutuhan mereka pada dasarnya bukan finansial, tetapi lebih kepada ruang untuk mereka berkreasi. Kenapa? Mereka hidup di era yang sebat pragmatis, cepat, era gadget, era googling, semuanya ada. Nah, untuk industri perbankan, berilah mereka work place, atau suasana kerja yang nyaman buat mereka. Beri kebebasan sedikit, jangan terlalu dikekang. Seketika mereka dikekang, mereka akan merasa kemerdekaannya itu berkurang.
Industri seperti perbankan, patut mengingat bahwa mereka adalah Gen Y, beda dengan Gen X dulu. Tipe Gen X adalah orang-orang yang serba patuh dengan segala aturan, karena waktu itu alat elektronik belum masif. Sekarang dukungan IT begitu kencang, Gen Y ini hidup di era kemudahan, sehingga mereka menempatkan diri sebagai orang-orang yang inovatif dan kreatif. Maka bank harus bisa mengeksploitasi dan mengeksplorasi talenta-talenta Gen Y ini.

  • Baca juga: Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

Untuk mencapai tujuan bank, apa yang harus dilakukan manajemen kepada Gen Y?

Berilah mereka tugas untuk membuat bisnis model menjadi lebih cepat tanpa mengabaikan unsur manajemen risiko dan compliance, dan unsur prudential principle. Kemudian, sering kirim mereka untuk melakukan benchmarking ke perusahaan lain. Mereka tentu akan senang dengan kesempatan itu. Berikan mereka special assignment. Singkat kata jangan pernah memberikan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutin atau monoton karena mereka pasti akan berontak. Fenomena seperti ini sudah nyata di industri perbankan.

BERITA TERKAIT

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Model komunikasinya seperti apa?

Untuk pimpinan, jangan sekali-kali menempatkan diri sebagai bos. Kita harus mendudukan diri sebagai partner ketika berhadapan dengan Gen Y ini. Karena mereka berkecenderungan sedikit mengabaikan masalah formalitas. Kalau bisa komunikasi dilakukan dalam ruang-ruang informal sehingga relasi atasan dan bawahan itu menjadi cair. Ini kehendak dari Gen Y. Jadi pimpinan yang rata-rata adalah Gen X harus mengakomodir hastrat dari Gen Y ini.
Tujuannya adalah agar tidak terjadi miskomunikasi. Misalnya atasan tidak merasa bawahan tidak taat, dan bawahan tidak merasa atasannya terlalu otoriter. Makanya kita lihat, pimpinan-pimpinan yang berhasil sejauh ini karena mengakomodir kebutuhan dari Gen Y secara baik dengan cara mengeksplorasi talenta-talenta dari Gen Y tersebut untuk kepentingan bank.
Misalnya, dunia e-commerce, ekonomi kreatif yang mulai booming, itu karena Gen Y yang berperan di situ, dan memang itu adalah dunianya mereka. Lihat saja start upper yang ada sekarang itu anak-anak muda yang punya daya kreatifitas dan daya inovasi yang luar biasa. Maka kita harus respek sama mereka.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Lantas apakah perlu adjustment kebijakan tertentu untuk Gen Y ini?

Sebetulnya, industri perbankan dan juga perusahaan pada umumnya, bersyukur jika mempunyai banyak Gen Y. itu potensi yang luar biasa. Asalkan pimpinannya bisa menemukan core telling-nya. Dan bahkan pada titik tertentu perusahaan dapat membuat adjustment dalam konteks misalnya, jam kerja. Untuk jam kerja mungkin flexy time harus diperbanyak dari pada permanent time. Dalam arti karyawan dengan Gen Y ini dia bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja, yang penting output-nya keluar. Jadi result oriented. Tren di negara maju memang sudah demikian.
Selain itu, penting juga memperhatikan tempat kerja para Gen Y ini. Jangan dibuat dalam ruangan yang tertutup, sempit. Karena mereka akan merasa terpenjara. Tempat kerja harus sesuai dengan dunia mereka, seperti penuh ornamen, gambar, atau bahkan kaca sebagai dinding sehingga terkesan tidak ada batasan. Karena kalau sekat tembok terkesan kaku dan dingin. Mungkin idealnya tempat kerja semirip café atau lounge. Di BNI itu sudah diterapkan, seperti di lantai 22 kantor pusat BNI, itu tempat rapatnya sudah seperti ruang karaoke, nyaman. Ini membuat para Gen Y akan betah, bertahan di tempat kerja. Karena kalau tidak demikian mereka tidak akan betah. Misalnya saat berangkat dari rumah, sudah membayangkan tembok, bos yang ‘jadul’, dan lain-lain yang mematikan daya kreatifitas mereka.
Di sisi lain, dari pakaian kerja juga mungkin bisa dibebaskan di hari tertentu, yang penting rapi. Karena di sejumlah perusahaan besar di duna, faktor-faktor tersebut sudah diterapkan untuk mengakomodir Gen Y ini. Jadi terminologi bos otoriter, ‘jadul’, itu jadi musuh bersama para Gen Y.

Idealnya untuk bank seperti apa?

Kalau di bank, arahnya adalah digital transaction. Maka para Gen Y ini harus ditempatkan pada posisi di mana kepentingan bank dan kebutuhan pegawa terakomodasi. Pegawai akan senang kalau diberikan pekerjaan yang sesuai dengan passion. Mungkin ada yang suka elektronik, ada yang suka IT, beri mereka pekerjaan itu. Kalau perlu diberikan tutorial atau pendamping agar berkembang. Karena para Gen Y ini menjadi sangat bagus ketika berada di area yang dia senangi. Tetapi bagaimana caranya area yang dia senangi ini ‘nyambung’ dengan kepentingan perusahaan sehingga memberikan value atau benefit bagi company.
Dalam proses itu, para Gen Y ini juga perlu diberikan reward dengan cara memberikan ruang-ruang untuk kontestasi mereka. Misalnya di internal perusahaan dibuat lomba untuk sebuah temuan baru yang tidak harus full applicative tetapi dapat memberikan benefit bagi bank. Dan hadiahnya, selain sertifikat atau piala, mungkin bisa diberikan liburan ke luar negeri seperti kunjungan ke laboratorium Microsoft, atau ke Samsung, atau mengunjungi kantor cabang BNI di New York misalnya. Ini merangsang kreatifitas mereka untuk terus berkembang dan berinovasi. Jadi uang itu no issue, pengalaman yang penting.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Pola rekrutmen para Gen Y ini seperti apa?

Seperti biasa lamaran pada umumnya. Melalui CV, kemudian kalau bank tertarik akan dihubungi untuk melakukan deep interview. Di situ akan ketahuan calon pegawai ini mempunyai kompetensi apa, dan kemudian akan dicarikan tempat yang sesuai dengan keunggulannya itu.
Sekarang ini, kalau kita bicara Gen Y, sama dengan kita bicara human capital, human investment. Mereka ini adalah modal yang paling bernilai bagi perusahaan. Karena kalau talenta bagus, bisa dibajak tetangga. Makanya perusahaan harus pandai-pandai menjaga mereka untuk tidak pindah ke tempat lain, apalagi tipe mereka sedang mencari bentuk dan mencari tempat yang tepat untuk berpijak. Maka setiap pemimpin di setiap perusahaan harus sering berkomunikasi, apa yang mereka butuhkan dan apa yang bisa perusahaan bantu. Dalam hal ini, kebutuhan individu Gen Y ini harus dipenuhi. Bukan kebutuhan finansial tetapi pengakuan. Beri special assignment yang menantang, pasti mereka kerjakan. Jangan monoton. Karena kita yang Gen X saja akan bosan kalau kerjanya monoton, apalagi Gen Y.

Bagaimana dengan Gen Z yang juga mulai muncul?

Untuk Gen Z, mereka tidak lagi mengenal yang namanya dimensi ruang dan waktu. Semuanya serba virtual. Dalam pandangan saja, orang nanti pagi kerja di Jakarta, malam tidur di Surabaya. Tidak ada lagi kata ‘sorry saya telat’.
Mereka memang banyak terima banyak informasi, tetapi ada natural filter yang membedakan mana yang baik dan yang jelek. Pada akhirnya mereka akan mengarah pada spesialis bukan generalis lagi. Nah, yang menghubungkan para spesialis ini adalah SLI (Servis Level Agreement). Ini karena tuntutan pasar. Orientasi ke depan, selain tarif, adalah speed delivery. Ketika kita berani memberikan jasa terkirim dengan cepat, konsumen tidak keberatan jika dikenai biaya premium, tidak masalah, karena tuntutan jaman membutuhkan itu.

 
 
 
 
 
Previous Post

Generari Yang Inovatif Tetapi Tidak Loyal

Next Post

Empowering Gen Y

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Sejarah Uang

Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

by Stella Gracia
21 Oktober 2026 - 14:20

INDEF menyoroti fenomena makan tabungan akibat inflasi pangan di atas 5 persen yang membuat rata-rata saldo tabungan di bawah Rp100...

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Terpakai Rp17 Triliun, Bank Mandiri Jelaskan Fasilitas Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin Group

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Menyebar Uang Muka 1 Persen

Menyebar Uang Muka 1 Persen

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance