Apa pandangan Anda terkait dengan pergeseran Generasi saat ini, yakni dari Gen X, Gen Y, hingga Gen Z?
Kita harus bisa benar-benar mengidentifikasi perubahan antar generasi dari dulu mulai sebelum Baby Boomers, Generasi X, sekarang Generasi Y, dan nantinya Generasi Z. Karena itu teriring dengan perubahan perilaku yang amat dramatik, di mana tipologi dari Gen Y itu adalah serba cepat, tidak mau bertele-tele, dan hidup dengan alam yang serba pragmatis. Jadi Gen Y ini identik dengan gadget.
Jadi perusahaan-perusahaan harus bisa atau mampu mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan objektif dari mereka yang masuk kategori Gen Y. Sekali perusahaan-perusahaan tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka, maka cepat atau lambat mereka akan ditinggal pergi oleh Gen Y. Pada dasarnya Gen Y ini punya talenta-talenta tertentu, mereka inovatif, kreatif. Tetapi kalau daya inovatif dan kreatif ini tidak diakomodasi, maka mereka akan kabur ke tempat lain yang memberikan opportunity untuk dia berinovasi. Ini selaras dengan tren turn over pegawai di perusahaan-perusahaan termasuk di perbankan.
Bisa dicek, sekarang ini ada kenaikan turn over pegawai. Dan terutama pegawai-pegawai muda. Definisi pegawai muda adalah mereka yang lama kerjanya di bawah lima tahun. Mereka ini adalah fresh graduate yang sedang mencari bentuk. Kemana sesungguhnya mereka akan berkarya secara permanen di kemudian hari. Boleh jadi dalam lima tahun pertama itu dia baru melakukan eksplorasi saja untuk mereka sampai pada satu titik, dan berkesimpulan inilah bidang kerja saya yang sesungguhnya. Jadi ini yang membuat turn over pegawai di industri itu tinggi. Kalau tidak salah, tingkat turn over di semua industri saat ini sekitar 12 persen per tahun. Jadi kalau perusahaan tidak memenuhi kebutuhan Gen Y ini, mereka akan frustrasi dan apply ke tempat lain.
Untuk industri perbankan, apa yang harus disiapkan untuk Gen Y ini?
Kebutuhan mereka pada dasarnya bukan finansial, tetapi lebih kepada ruang untuk mereka berkreasi. Kenapa? Mereka hidup di era yang sebat pragmatis, cepat, era gadget, era googling, semuanya ada. Nah, untuk industri perbankan, berilah mereka work place, atau suasana kerja yang nyaman buat mereka. Beri kebebasan sedikit, jangan terlalu dikekang. Seketika mereka dikekang, mereka akan merasa kemerdekaannya itu berkurang.
Industri seperti perbankan, patut mengingat bahwa mereka adalah Gen Y, beda dengan Gen X dulu. Tipe Gen X adalah orang-orang yang serba patuh dengan segala aturan, karena waktu itu alat elektronik belum masif. Sekarang dukungan IT begitu kencang, Gen Y ini hidup di era kemudahan, sehingga mereka menempatkan diri sebagai orang-orang yang inovatif dan kreatif. Maka bank harus bisa mengeksploitasi dan mengeksplorasi talenta-talenta Gen Y ini.
Untuk mencapai tujuan bank, apa yang harus dilakukan manajemen kepada Gen Y?
Berilah mereka tugas untuk membuat bisnis model menjadi lebih cepat tanpa mengabaikan unsur manajemen risiko dan compliance, dan unsur prudential principle. Kemudian, sering kirim mereka untuk melakukan benchmarking ke perusahaan lain. Mereka tentu akan senang dengan kesempatan itu. Berikan mereka special assignment. Singkat kata jangan pernah memberikan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutin atau monoton karena mereka pasti akan berontak. Fenomena seperti ini sudah nyata di industri perbankan.
BERITA TERKAIT
Model komunikasinya seperti apa?
Untuk pimpinan, jangan sekali-kali menempatkan diri sebagai bos. Kita harus mendudukan diri sebagai partner ketika berhadapan dengan Gen Y ini. Karena mereka berkecenderungan sedikit mengabaikan masalah formalitas. Kalau bisa komunikasi dilakukan dalam ruang-ruang informal sehingga relasi atasan dan bawahan itu menjadi cair. Ini kehendak dari Gen Y. Jadi pimpinan yang rata-rata adalah Gen X harus mengakomodir hastrat dari Gen Y ini.
Tujuannya adalah agar tidak terjadi miskomunikasi. Misalnya atasan tidak merasa bawahan tidak taat, dan bawahan tidak merasa atasannya terlalu otoriter. Makanya kita lihat, pimpinan-pimpinan yang berhasil sejauh ini karena mengakomodir kebutuhan dari Gen Y secara baik dengan cara mengeksplorasi talenta-talenta dari Gen Y tersebut untuk kepentingan bank.
Misalnya, dunia e-commerce, ekonomi kreatif yang mulai booming, itu karena Gen Y yang berperan di situ, dan memang itu adalah dunianya mereka. Lihat saja start upper yang ada sekarang itu anak-anak muda yang punya daya kreatifitas dan daya inovasi yang luar biasa. Maka kita harus respek sama mereka.
Lantas apakah perlu adjustment kebijakan tertentu untuk Gen Y ini?
Sebetulnya, industri perbankan dan juga perusahaan pada umumnya, bersyukur jika mempunyai banyak Gen Y. itu potensi yang luar biasa. Asalkan pimpinannya bisa menemukan core telling-nya. Dan bahkan pada titik tertentu perusahaan dapat membuat adjustment dalam konteks misalnya, jam kerja. Untuk jam kerja mungkin flexy time harus diperbanyak dari pada permanent time. Dalam arti karyawan dengan Gen Y ini dia bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja, yang penting output-nya keluar. Jadi result oriented. Tren di negara maju memang sudah demikian.
Selain itu, penting juga memperhatikan tempat kerja para Gen Y ini. Jangan dibuat dalam ruangan yang tertutup, sempit. Karena mereka akan merasa terpenjara. Tempat kerja harus sesuai dengan dunia mereka, seperti penuh ornamen, gambar, atau bahkan kaca sebagai dinding sehingga terkesan tidak ada batasan. Karena kalau sekat tembok terkesan kaku dan dingin. Mungkin idealnya tempat kerja semirip café atau lounge. Di BNI itu sudah diterapkan, seperti di lantai 22 kantor pusat BNI, itu tempat rapatnya sudah seperti ruang karaoke, nyaman. Ini membuat para Gen Y akan betah, bertahan di tempat kerja. Karena kalau tidak demikian mereka tidak akan betah. Misalnya saat berangkat dari rumah, sudah membayangkan tembok, bos yang ‘jadul’, dan lain-lain yang mematikan daya kreatifitas mereka.
Di sisi lain, dari pakaian kerja juga mungkin bisa dibebaskan di hari tertentu, yang penting rapi. Karena di sejumlah perusahaan besar di duna, faktor-faktor tersebut sudah diterapkan untuk mengakomodir Gen Y ini. Jadi terminologi bos otoriter, ‘jadul’, itu jadi musuh bersama para Gen Y.
Idealnya untuk bank seperti apa?
Kalau di bank, arahnya adalah digital transaction. Maka para Gen Y ini harus ditempatkan pada posisi di mana kepentingan bank dan kebutuhan pegawa terakomodasi. Pegawai akan senang kalau diberikan pekerjaan yang sesuai dengan passion. Mungkin ada yang suka elektronik, ada yang suka IT, beri mereka pekerjaan itu. Kalau perlu diberikan tutorial atau pendamping agar berkembang. Karena para Gen Y ini menjadi sangat bagus ketika berada di area yang dia senangi. Tetapi bagaimana caranya area yang dia senangi ini ‘nyambung’ dengan kepentingan perusahaan sehingga memberikan value atau benefit bagi company.
Dalam proses itu, para Gen Y ini juga perlu diberikan reward dengan cara memberikan ruang-ruang untuk kontestasi mereka. Misalnya di internal perusahaan dibuat lomba untuk sebuah temuan baru yang tidak harus full applicative tetapi dapat memberikan benefit bagi bank. Dan hadiahnya, selain sertifikat atau piala, mungkin bisa diberikan liburan ke luar negeri seperti kunjungan ke laboratorium Microsoft, atau ke Samsung, atau mengunjungi kantor cabang BNI di New York misalnya. Ini merangsang kreatifitas mereka untuk terus berkembang dan berinovasi. Jadi uang itu no issue, pengalaman yang penting.
Pola rekrutmen para Gen Y ini seperti apa?
Seperti biasa lamaran pada umumnya. Melalui CV, kemudian kalau bank tertarik akan dihubungi untuk melakukan deep interview. Di situ akan ketahuan calon pegawai ini mempunyai kompetensi apa, dan kemudian akan dicarikan tempat yang sesuai dengan keunggulannya itu.
Sekarang ini, kalau kita bicara Gen Y, sama dengan kita bicara human capital, human investment. Mereka ini adalah modal yang paling bernilai bagi perusahaan. Karena kalau talenta bagus, bisa dibajak tetangga. Makanya perusahaan harus pandai-pandai menjaga mereka untuk tidak pindah ke tempat lain, apalagi tipe mereka sedang mencari bentuk dan mencari tempat yang tepat untuk berpijak. Maka setiap pemimpin di setiap perusahaan harus sering berkomunikasi, apa yang mereka butuhkan dan apa yang bisa perusahaan bantu. Dalam hal ini, kebutuhan individu Gen Y ini harus dipenuhi. Bukan kebutuhan finansial tetapi pengakuan. Beri special assignment yang menantang, pasti mereka kerjakan. Jangan monoton. Karena kita yang Gen X saja akan bosan kalau kerjanya monoton, apalagi Gen Y.
Bagaimana dengan Gen Z yang juga mulai muncul?
Untuk Gen Z, mereka tidak lagi mengenal yang namanya dimensi ruang dan waktu. Semuanya serba virtual. Dalam pandangan saja, orang nanti pagi kerja di Jakarta, malam tidur di Surabaya. Tidak ada lagi kata ‘sorry saya telat’.
Mereka memang banyak terima banyak informasi, tetapi ada natural filter yang membedakan mana yang baik dan yang jelek. Pada akhirnya mereka akan mengarah pada spesialis bukan generalis lagi. Nah, yang menghubungkan para spesialis ini adalah SLI (Servis Level Agreement). Ini karena tuntutan pasar. Orientasi ke depan, selain tarif, adalah speed delivery. Ketika kita berani memberikan jasa terkirim dengan cepat, konsumen tidak keberatan jika dikenai biaya premium, tidak masalah, karena tuntutan jaman membutuhkan itu.
















