Apa ciri utama Generasi Y?
Yang saya tahu, pertama saya melihat mereka itu risk taker. Kenapa demkian? Karena sejak awal pola bermainnya saja sudah berbeda dengan Gen X. Permainan yang mereka mainkan kan biasanya kalau tokohnya kalah akan hidup lagi, terus menerus. Jadi mereka tidak takuk gagal. Kedua, Gen Y selalu punya keinginan untuk eksis, keinginan untuk tampil itu sangat kuat.
Ketiga, soal loyalitas, Gen Y ini adalah kelompok yang tidak loyal. Makanya seperti kami di perusahaan pembiayaan, ketika ingin membiayai mobil, kita akan melihat mana market share terbesar. Oh ternyata Astra. Nah kenapa Astra, karena mobil-mobil Astra harga jualnya masih bagus. Nah, pembeli dengan Gen X saat mau membeli mobli, dia akan bertanya ke kami, nanti harga jual mobil ini berapa ya?
Tetapi untuk nasabah dengan Gen Y, mereka tidak akan melihat result value seperti Gen X. Mereka lebih logis. Artinya, selama mobil ini bagus, tampilannya sesuai yang mereka mau, mereka akan membeli. Nah, ke depan, bukan tidak mungkin produk mobil di luar Astra akan lebih tumbuh. Ya kita prediksi dalam 3-4 tahun lagi market share Astra akan turun jadi 50 persen. Ini sejalan dengan pertumbuhan Gen Y yang punya banyak alternatif. Karena dia ingin eksis dan tampil beda.
Apa strategi perusahaan multifinance menghadapi Nasabah Gen Y?
Sudah tentu selain masuk ke Astra, kami juga masuk ke produk alternatif yang belum banyak perusahaan leasing masuk ke sana, seperti merek Hyundai, Kia, Chevrolet. Jadi kami masuk ke segmen non Astra.
Bagaimana cara berkomunikasi terbaik dengan Gen Y?
Kami mengetahui bahwa Gen Y ini lebih senang dengan yang namanya IT. Maka komunikasinya kami akan lebih cenderung melalui media sosial. Karena mereka kumpulnya di situ. Jadi media sosial ke depan akan mendapat peran penting. Nah, edukasi kami tidak hanya mulai dari tingkat user, tetapi mulai dari di bawah user. Artinya kami mencoba membangun komunikasi melalui media sosial dengan orang-orang yang dalam 3-4 tahun lagi baru bisa membeli mobil. Jadi kami mulai edukasi di level ini.
Sebenarnya, komunitas Gen Y ini dibagi dua. Ada komunitas yang sudah mapan, yang umumnya lebih memilih YouTube dan di Linkedin sebagai media sosialnya. Sedangkan yang masih ‘main-main’ itu biasanya di media sosial lain. Nah kami harus memilih, di level media sosial mana kami akan masuk secara intens. Yang sudah mapan, atau yang dalam 3-4 tahun lagi baru bisa atau mampu beli mobil.
BERITA TERKAIT
Di sisi internal, apa pengaruh kehadiran Gen Y?
Ada plus minus keberadaan Gen Y di internal kami. Positifnya, mereka itu sangat inovatif. Di tim corporate communication kami itu kebanyakan adalah Gen Y. Mereka itu inovatif, cara berpikirnya jauh lebih bagus, karena mereka berani untuk ‘out of the box’. Sehingga kreasi-kreasi mereka cukup bagus.
Hanya, kalau dari sisi negatifnya, seperti yang sudah saya jelaskan tadi, soal loyalitas, mereka kurang. Contohnya, kalau mereka sudah merasa tidak dihargai, tidak bisa eksis, mereka akan cari tempat lain sehingga mereka bisa eksis dan tetap tampil. Makanya di tempat kami, mereka kami buat untuk terus tampil.
Misalnya untuk urusan presentasi, banner, dan lain-lain, saya serahkan ke mereka. Sehingga tampil terus. Padahal di beberapa perusahaan, saya lihat ada yang pake vendor. Kalau kami tidak demikian, kami berdayakan Gen Y ini. Kami beri modal seperti laptop dan programnya, kendati mahal sekalipun. Karena value yang kami dapat melampaui harga laptop dan program tersebut. Selain itu, kami berikan reward juga. Jadi ketika ada acara-acara perusahaan, atau apapun, kami akan terus tampilkan mereka.
Bagaimana dengan pola rekrutmen karyawan kelompok Gen Y ini?
Memang sekarang sudah masuk generasi Y yang berperan. Kesulitan kami mungkin di tim ujung tombak, seperti CFO, atau di dealer itu salesmen. Ini agak sulit, karena mereka kurang ulet. Inovatif, tetapi kurang ulet, dan cepat bosan. Kami melihatnya bahwa ketika orang-orang bekerja sebagai karyawan, Gen Y ini lebih berkeinginan untuk memiliki usaha sendiri. Mereka kecenderungan tidak bisa kerja sama orang, kecuali dikasih ruang untuk improvisasi dan eksis, mereka akan bertahan. Maka dari sekarang, kami sedang mencoba rekrut orang-orang ujung tombak, dan mendidik mereka untuk persisten dan ulet. Ini yang sulit.
Tetapi kami akan merekrut Gen Y yang inovatif untuk mengkreasi produk atau program sesuai keinginan nasabah yang Gen Y juga. Sebagai contoh, ketika saya Gen X, meminta tim saya untuk membuat sebuah advertising, saya hanya coret-coret, kemudian diterjemahkan oleh mereka itu sangat bagus. Ini keunggulan mereka. Dari warna, tata letak, tampilan, dan lain-lain itu memang terkesan mahal tetapi elegan. Ini yang menarik bagi nasabah Gen Y juga.
Sebenarnya cara seperti ini juga diterapkan di dealer, ATPM. Karena keberadaan Gen Y sudah bergeser ke usia produktif. Jadi mereka butuh kreativitas Gen Y untuk menarik konsumen yang termasuk Gen Y juga.
Secara umum gaya hidup mereka seperti apa?
Sebenarnya gaya hidup mereka tidak terlalu tinggi juga. Mereka hanya butuh dikasih ruang untuk berekspersi dan bisa eksis. Jadi kalau kami tidak memberikan ruang untuk improvisasi, mereka akan keluar. Mereka hanya perlu diapresiasi.
Jadi Gen Y ini sebenarnya cocok di bidang apa saja, yang penting dikasih ruang gerak. Jadi bidang kerja yang mereka bisa improvisasi. Dan dengan gaya hidup mereka, Gen Y itu pasti sangat cocok di sektor ekonomi kreatif.
Nah, apakah Gen Y ini jadi ancaman buat Gen X?
Kehadiran Gen Y tidak menjadi ancaman Gen X, karena dua karakter yang berbeda. Kelebihan Gen X adalah ulet, tetapi Gen Y tidak demikian. Tetapi Gen Y ini kreatif dan lebih inovatif karena memang dari kecil mereka sudah banyak terima informasi juga. Mereka lebih unggul di penguasaan IT, handphone, dan networking.
Bagaimana dengan kemunculan Gen Z?
Memang sudah ada. Gen ini memang agak unik. Tetapi soal loyalitas akan lebih parah dari Gen Y. Karena Gen Z ini terlalu banyak menerima informasi dibanding Gen Y. Dengan banyaknya informasi, mereka dihadapkan dengan banyak pilihan, dan otomasit Gen Z ini banyak maunya.
Contohnya, Gen X kalau buka usaha di satu ruko, dia akan coba bertahan di usaha yang sama hingga berhasil. Kalau Gen Y dia akan mencoba untuk berpindah-pindah. Tetapi kalau Gen Z dengan satu ruko itu dalam satu tahun dia bisa mencoba usaha yang berbeda-beda. Tetapi dalam 9-10 tahun ke depan Gen Z ini yang kemungkinan tumbuh pesat.
















