• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Jumat, Agustus 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Menjawab Tantangan Perbankan Syariah

oleh Sandy Romualdus
4 Juni 2016 - 00:00
11
Dilihat
Menjawab Tantangan Perbankan Syariah
0
Bagikan
11
Dilihat

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia saat ini cukup menggembirakan jika dibandingkan dengan masa lebih dari tiga dekade silam ketika Bank Muamalat berdiri pada 1991. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya kantor bank syariah atau jumlah penghimpunan dana dan pembiayaannya.

Jika pada tahun 1992-1998 hanya terdapat satu BUS, maka berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Statistik Perbankan Syariah (SPS) sampai bulan Desember 2014, Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia berjumlah 12, Unit Usaha Syariah (UUS) berjumlah 22. Sedangkan total aset BUS dan UUS per Desember 2014 telah mencapai Rp272,34 triliun dengan jumlah DPK sebesar Rp217,86 triliun dan pembiayaan yang diberikan sebesar Rp199,33 triliun. (Apip Zanaryatim, 2016).

  • Baca juga: Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Namun perkembangan perbankan syariah Indonesia berjalan lambat jika dibandingkan dengan negara tetangga. Share bank syariah masih berada pada kisaran 4,8 persen dari total industri perbankan, reksa dana syariah juga masih 4,5 persen. Sukuk sebagai salah satu alternatif investasi juga masih 3,2 persen.

BERITA TERKAIT

BNI Hadirkan Akses Eksklusif Menikmati Andrea Bocelli “Romanza” di Indonesia

Kolaborasi Bank BSN dan BAZNAS, ZIS Bakal Mudah Dibayar Lewat Bale Syariah

Kemenkeu Peduli Salurkan Bantuan Logistik Rp 565,2 Juta untuk Pengungsi Gempa Nusa Tenggara Timur

Komisi XI DPR dan Kemenkeu Tinjau Gempa Flores: Pemulihan Bencana Tidak Berhenti di Fase Tanggap Darurat

Sedangkan, industri keuangan non-bank (IKNB) hanya berkontribusi 3,1 persen. Perbankan syariah berkontribusi terbesar untuk keuangan syariah (50 persen), diikuti oleh sukuk (44 persen), kemudian asuransi syariah dan reksadana (65 persen). (Luqman Hakim Handoko, 2016). Hal ini tentu menjadi perhatian dan tantangan bagi bangsa Indonesia agar mampu menjadikan negeri ini sebagai kiblatnya perbankan syariah.

Laporan bertajuk Indonesia’s Economy and The Prospect for Banking in 2016 yang dilansir Otorotas Jasa Keuangan menggambarkan secara umum kinerja keuangan perbankan masih terjaga baik dan relatif stabil. Hal itu tercermin dari fungsi intermediasi yang berjalan normal, permodalan yang masih kuat, rentabilitas perbankan yang masih terjaga baik, dan efisiensi perbankan yang masih oke kendati sedikit mengalami penurunan.

Digambarkan juga tentang visi pengembangan perbankan syariah yakni: mewujudkan perbankan syariah yang berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan dan stabilitas sistem keuangan serta berdaya saing tinggi. Untuk mewujudkan visi perbankan syariah itu, Indonesia harus mampu menghadapi berbagai tantangan.

  • Baca juga: Toxic Productivity

Menjawab Tantangan

Pembenahan perbankan dapat dilakukan dengan meningkatkan ketahanan organisasi. Salah satu cara untuk mewujudkan ketahanan perbankan syariah adalah dengan menerapkan institutional building. Ini adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperkokoh organisasi dengan mengandalkan kekuatan baik dari dalam maupun dari luar organisasi.

Institutional building perbankan syariah dapat dicapai melalui tahapan proses sebagai berikut. Pertama, merumuskan visi dan misi organisasi. Visi perbankan syariah menunjukkan suatu pernyataan yang menjelaskan tentang keadaan yang terjadi jika semua dapat berjalan dengan baik. Sedangkan misi perbankan syariah adalah pernyataan tujuan yang menjelaskan mengapa kita harus berusaha. Agar visi dan misi organisasi dapat diukur keberhasilannya, maka perbankan syariah juga mesti menetapkan indikator-indikator keberhasilanya.

Keberhasilan pencapaian visi dan misi perbankan syariah dipengaruhi banyak faktor baik internal maupun eksternal. Kekuatan internal antara lain komitmen seluruh elemen dalam organisasi terhadap visi dan misi yang telah disepakati. Sedangkan kekuatan eksternal adalah segala sumberdaya yang ada di sekitar perbankan syariah mulai dari nasabah, mitra pembiayaan, pengambil kebijakan, mitra industri, dll. Pengalaman empirik menunjukkan bahwa pada organisasi yang istiqomah terhadap visi dan misinya tidak terlalu terpengaruh pada turn over personalianya.

Kedua, adanya standard operational procedure (SOP). SOP yang baik adalah yang memberikan ruang terhadap inovasi, jaminan atas career planning sertra prosedur administrasi yang jelas.

Ketiga, pemilihan segmentasi pasar. Produk yang dihasilkan mesti spesifik dan punya keunggulan sendiri, baik dari sisi kemudahan layanan, kecepatan prosesnya maupun daya manfaat bagi nasabahnya. Sehingga image produk yang diluncurkan itu terpatri di masyarakat. Dengan adanya kodifikasi produk perbankan syariah yang telah diterbitkan OJK, maka perbankan syariah bisa menyesuaikan pilihan produk yang ditawarkan kepada nasabah dengan kapasitas organisasinya.

  • Baca juga: TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

Dukungan regulasi dan berbagai stimulus yang telah diluncurkan pemerintah mesti dijadikan momentum untuk terus bergerak meningkatkan kinerjanya. Peningkatan peran dan eksistensi perbakan syariah itu dapat dilihat dari indikasi terjadinya peningkatan nilai aset perbankan syariah. Peningkatan nilai aset ini dipengaruhi banyak faktor antara lain: terjadinya peningkatan modal, naiknya jumlah tabungan nasabah dan naiknya perolehan laba.

Sesuai dengan prinsip-prinsipnya, perbankan syariah menganggap nasabah pembiayaannya sebagai mitra. Di mana terdapat pembagian peran untuk mensukseskan bisnis yang dibiayai. Perbankan syariah juga ikut proaktif dalam membantu usaha mitra agar tingkat kemacetan cicilan dapat ditekan seminimum mungkin. Dengan demikian perolehan laba pun dapat dicapai secara maksimal.

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Jalan Terjal Menuju Single Digit

Selanjutnya

Bunga Kredit Mikro Terobosan Baru Program KUR

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

oleh Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

oleh Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

oleh Sandy Romualdus
18 Juni 2026 - 10:09

Oleh : Dimyauddin, Peneliti LPPI Bayangkan ada seorang petani peserta asuransi syariah di Nusa Tenggara yang gagal panen karena kekeringan...

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:16

Oleh : Dr. Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Tanggal 18 Maret 2025 pasar...

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

oleh Stella Gracia
26 Juni 2024 - 15:05

Oleh Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik dan Ekonom UPN Veteran Jakarta Baru-baru ini, Indonesia dikejutkan oleh serangan siber besar-besaran...

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

oleh Sandy Romualdus
21 September 2023 - 16:34

Oleh Ahmed Zulfikar, Relationship Manager LPPI SAAT ini isu perubahan iklim telah menjadi topik hangat yang hampir selalu dibahas dalam...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Potret Bankir Millenial dan Gen Z

    Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

BNI Hadirkan Akses Eksklusif Menikmati Andrea Bocelli “Romanza” di Indonesia

Kolaborasi Bank BSN dan BAZNAS, ZIS Bakal Mudah Dibayar Lewat Bale Syariah

Kemenkeu Peduli Salurkan Bantuan Logistik Rp 565,2 Juta untuk Pengungsi Gempa Nusa Tenggara Timur

Komisi XI DPR dan Kemenkeu Tinjau Gempa Flores: Pemulihan Bencana Tidak Berhenti di Fase Tanggap Darurat

RAPBN 2027 Targetkan Ekonomi Tumbuh 6%: Wamenkeu Suahasil Buka-Bukaan Strategi Efisiensi Anggaran

ULN Swasta Masih Kontraksi, Penarikan Utang Pemerintah Kuartal II/2026 Melambat

Sabet IACA Award 2026, BI Manfaatkan Limbah Racik Uang Kertas Jadi Cendera Mata dan Energi

Terintegrasi Aplikasi OCTO, KKI Ritel CIMB Niaga Fasilitasi Pembayaran QRIS

Rasio LaR Turun 145 Bps, BRI Jaga NPL Coverage Tebal di Level 179,45%

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
OJK Dorong Pembiayaan Infrastruktur Melalui Sukuk

OJK Terima 3.805 Aduan, Mayoritas soal Klaim Asuransi

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance