BERITA TERKAIT
“I will never talk about my job…,” Jadi kadang saya seperti tidak mensyukuri pekerjaan yang saya miliki sekarang. Cepet bosen, easily distracted, you name it. Kemarin pas jadi auditor, pingin kerja di SDM, alasannya biar hati lebih tentram. Sekarang kerja di SDM, sakit tentramnya hati pingin balik ngaudit, alasannya flaaat butuh tantangan. Ntar kalo udah ngaudit lagi, gatau deh penginnya apa lagi… Yah, mungkin begitulah sisi negatif dari generasi Y. Sisi positifnya? Banyak, cari aja sendiri yah…,”.
Tulisan itu dikutip dari blog berjudul “Why oh Why I’m A Gen Y” di laman nadkhaerunnisa.com. Tulisan pada blog yang dimiliki oleh perempuan muda bernama Nadia Khaerunnisa, dan baru beberapa tahun mengecap dunia kerja, tampaknya mewakili ciri dari Generasi Y, atau orang-orang yang lahir di periode 80-an dan awal 90-an.
Intan lain lagi. Dalam waktu satu setengah tahun, perempuan muda itu sudah bekerja di tiga perusahaan. Awalnya ia menjadi staf bagian keuangan di perusahaan televisi kabel, lalu sebagai administrator perusahaan ekspor-impor susu, dan terakhir menjabat analis salah satu bank asing di Jakarta.
Perempuan 25 tahun itu mengatakan, perpindahannya karena belum menemukan pekerjaan yang cocok. Tamat sebagai Sarjana Matematika dari perguruan tinggi negeri di Bandung, Intan memiliki banyak peluang kerja. Apalagi dia menggemari tantangan. “Saya senang dengan bidang kerja baru,” akunya. Namun kelemahannya adalah cepat bosan jika telah menemukan ritmen kerja yang konstan.
Di perusahaan terakhir, Intan belum menemukan pekerjaan yang tepat. Dia masih merasa perusahaan sekarang belum membuat nyaman. Intan merasa model kerja dan waktu sebagai analis sangat statis.
Generasi Y memang selalu digambarkan sebagai generasi yang dengan mudahnya berpindah-pindah kerja bahkan dengan alasan yang terbilang sepele untuk ukuran generasi yang lain. Mereka juga dinilai tidak memiliki loyalitas pada perusahaan seperti generasi-generasi sebelumnya.
Principal dan pendiri Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto, mengatakan tipe pekerja yang sekarang mendominasi pasar dikenal sebagai generasi yang menuntut fleksibilitas kerja. Generasi ini dikenal dengan istilah Gen Y, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya, “The History of America’s Future 1584 to 2069”. Istilah ini menyebar secara global dan menjadi pembahasan oleh departemen sumber daya manusia perusahaan-perusahaan.
Generasi Y dikenal sebagai generasi yang mobile. Mereka adalah generasi yang akrab dengan kecanggihan teknologi informasi seperti gadget. Golongan Gen Y adalah orang yang terlahir setelah 1980.
Namun, menurut Haryo, Gen Y tidak dibatasi usia dan lebih dicirikan dari karakternya. Haryo menilai Gen Y dalam ruang lingkup sumber daya manusia adalah generasi yang bekerja tidak terikat waktu, yang menginginkan nilai diri bertambah melalui pekerjaan. “Turn over-nya tinggi,” ujar Haryo.
Konsultan perekrutan karyawan ini menilai Gen Y merupakan generasi yang terus mencari minat dan bakatnya dan selalu berupaya menemukan passion-nya. Karakter Gen Y lebih suka bergaya dan berkostum santai. Seringkali masalah busana ini menjadi pertimbangan mencari tempat bekerja yang cocok. Tak mengherankan jika perusahaan mapan yang sudah memiliki budaya dan model kerja teratur dan konstan tak menjadi pilihan generasi ini. “Mereka lebih senang perusahaan yang membolehkan bekerja mengenakan kaus dan memiliki fleksibilitas waktu,” kata Haryo.
Karakter lainnya adalah pekerja Gen Y lebih mengutamakan perusahaan yang mampu mendorong pekerjanya mendapatkan penampilan lebih oke. “Performance-nya bertambah,” katanya.
Gen Y adalah generasi yang tumbuh di tengah hiruk pikuknya perkembangan teknologi. Kepekaan teknologi jugalah yang memengaruhi kepekaan Gen Y terhadap perubahan. Mereka tidak takut perubahan, namun seringkali tidak sabar melalui proses menuju perubahan itu. Mereka adalah generasi yang akrab dengan Internet dan sangat aktif di media jejaring sosial. Gen Y dikenal sebagai generasi yang egosentris, berpusat pada diri sendiri dan senang unjuk diri. Majalah Time menyebut generasi ini sebagai ‘me me me generation.’
Menurut Lita Mucharom, Human Capital Management Coach dari Langkah Mitra Selaras, dalam bekerja para Gen Y ini cenderung seperti kutu loncat. Ketika tempat kerja tak lagi menyenangkan atau tidak sesuai dengan gaya hidup, mereka tak segan-segan mencari tempat kerja baru. Yang dikejar di perusahaan baru biasanya income tahunan yang lebih tinggi dan prestise bekerja di lingkungan kerja yang lebih sophisticated, lebih keren.
“Kesempatan untuk traveling juga menjadi alasan kuat bagi generasi ini untuk berpindah kerja. Selain itu, pengaruh ikatan teman juga dengan mudah membuat mereka mengubah karier dan pekerjaan,” ujar Lita.
Ciri lain gaya hidup Gen Y ini adalah gemar membeli produk dan layanan yang mencerminkan kepribadian mereka, trendi, namun dengan harga yang relatif terjangkau. Mereka tidak suka dengan gaya penjualan dan iklan yang cenderung memaksa. Sebaliknya mereka sangat peduli dengan rekomendasi teman-teman sebayanya. “Rekomendasi ini, yang acap didapatkan melalui jejaring sosial, acap lebih dipercaya ketimbang iklan-iklan perusahaan,” ungkap Himawan Wijanarko, Direktur The Jakarta Consulting Group.
Standar dan Gaya Hidup
Jennie S. Bev, seorang kolumnis dan penulis buku kelahiran Indonesia yang kini bermukim di California, Amerika
Laporan aporan Utamatama Serikat (AS) mengatakan, Gen Y diNegeri Paman Sam pada umumnya hidup dengan standar hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan orang tua mereka (Generasi Baby Boomers dan Generasi X), sehingga mempunyai kriteria “sukses” yang berbeda pula. Mereka terlatih oleh keadaan untuk menjadi peka akan sosial dan peka akan nilai suatu produk yang sebenarnya.
Kalau Generasi Baby Boomers tergila-gila dengan brand mewah sebagai simbol ‘sukses finansial’ seperti Hermes, Louis Vuitton, Ferrari, Jaguar, dan Mercedes-Benz, kriteria sukses mereka adalah seperti mendiang Steve Jobs dengan Apple-nya atau para social entrepreneurs yang bisa bekerja dari mana saja dengan modal minimal, seperti Chris Guillebeau.
Generasi yang disebut juga dengan Generasi Milenium ini tidak anti dengan kemewahan, namun mereka sangat sadar akan stress level bumi dengan segala macam polusi dan global warming ekologi, serta sadar akan satu dunia yang disatukan dengan Internet, sehingga lokasi geografis bukan lagi suatu penentu di mana mereka harus berada. Mereka bisa berada di lebih dari satu tempat dengan bekerja melalui Web dengan cloud technology-nya. “Mereka bisa punya teman dan partner kerja yang berada di belahan bumi yang berbeda. Mereka sadar akan perbedaan jam namun ini tidak menjadi penghalang, bahkan pemersatu,” kata Jennie.
Uniknya, mental kelimpahan informasi ini dibarengi dengan mental kesederhanaan gaya hidup. Paradoks ini menjadikan Gen Y sangat peka akan keadaan sosial, walaupun kebanyakan mereka akses via Internet.
Menurut Jennie, personal taste alias citarasa yang sangat personal sudah menjadi gaya hidup mereka. Kalau generasi orang tua mereka mengenakan jam tangan Rolex sebagai simbol sukses, mereka punya standar berbeda seperti sudah mempunyai online business yang menghasilkan 4 sampai 5 digit dollar AS setiap bulan. Jadi sebenarnya membeli Rolex bukan lagi menjadi masalah.
Mereka sadar akan hak-hak mereka sebagai warga dunia dan ikut aktif di kancah pergerakan hak seperti di Arab Spring dengan Facebook dan Twitter revolution. Bagi mereka, membeli satu tas tangan Hermes seharga 30.000 dollar AS tidaklah se-prestise menggerakkan massa melalui online fund raising untuk kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan dan revolusiner.
Apalagi dengan akses instan ke beberapa listing properti yang telah disita bank dan negara. Gen Y dengan mudah mengerti bahwa nilai luxury branded products hanya ilusi yang lebih baik diinvestasikan ke dalam bentuk investasi lain.
Mereka juga sadar akan kekuatan crowdfunding dan private equity, serta tidak lagi menunggu bisnis-bisnis mereka cukup besar untuk IPO di NYSE atau JSE.
“Dengan kata lain, para Milenial adalah generasi yang menghargai kesederhanaan materi, namun kaya akan kekuataan ilmu pengetahuan dan ide-ide progresif. Siapkan perusahaan Ada memenuhi kebutyhan para Milenial yang cerdas, peka sosial, luar bias atanggap, dan tidak tergila-gila luxury brand,” kata Jennie.
















