• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Rabu, Oktober 28, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Pemburu Cita Rasa Personal

by Sandy Romualdus
26 Maret 2015 - 00:00
25
VIEWS
Pemburu Cita Rasa Personal
0
SHARES
25
VIEWS

BERITA TERKAIT

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

“I will never talk about my job…,” Jadi kadang saya seperti tidak mensyukuri pekerjaan yang saya miliki sekarang. Cepet bosen, easily distracted, you name it. Kemarin pas jadi auditor, pingin kerja di SDM, alasannya biar hati lebih tentram. Sekarang kerja di SDM, sakit tentramnya hati pingin balik ngaudit, alasannya flaaat butuh tantangan. Ntar kalo udah ngaudit lagi, gatau deh penginnya apa lagi… Yah, mungkin begitulah sisi negatif dari generasi Y. Sisi positifnya? Banyak, cari aja sendiri yah…,”.
Tulisan itu dikutip dari blog berjudul “Why oh Why I’m A Gen Y” di laman nadkhaerunnisa.com. Tulisan pada blog yang dimiliki oleh perempuan muda bernama Nadia Khaerunnisa, dan baru beberapa tahun mengecap dunia kerja, tampaknya mewakili ciri dari Generasi Y, atau orang-orang yang lahir di periode 80-an dan awal 90-an.
Intan lain lagi. Dalam waktu satu setengah tahun, perempuan muda itu sudah bekerja di tiga perusahaan. Awalnya ia menjadi staf bagian keuangan di perusahaan televisi kabel, lalu sebagai administrator perusahaan ekspor-impor susu, dan terakhir menjabat analis salah satu bank asing di Jakarta.
Perempuan 25 tahun itu mengatakan, perpindahannya karena belum menemukan pekerjaan yang cocok. Tamat sebagai Sarjana Matematika dari perguruan tinggi negeri di Bandung, Intan memiliki banyak peluang kerja. Apalagi dia menggemari tantangan. “Saya senang dengan bidang kerja baru,” akunya. Namun kelemahannya adalah cepat bosan jika telah menemukan ritmen kerja yang konstan.
Di perusahaan terakhir, Intan belum menemukan pekerjaan yang tepat. Dia masih merasa perusahaan sekarang belum membuat nyaman. Intan merasa model kerja dan waktu sebagai analis sangat statis.
Generasi Y memang selalu digambarkan sebagai generasi yang dengan mudahnya berpindah-pindah kerja bahkan dengan alasan yang terbilang sepele untuk ukuran generasi yang lain. Mereka juga dinilai tidak memiliki loyalitas pada perusahaan seperti generasi-generasi sebelumnya.
Principal dan pendiri Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto, mengatakan tipe pekerja yang sekarang mendominasi pasar dikenal sebagai generasi yang menuntut fleksibilitas kerja. Generasi ini dikenal dengan istilah Gen Y, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya, “The History of America’s Future 1584 to 2069”. Istilah ini menyebar secara global dan menjadi pembahasan oleh departemen sumber daya manusia perusahaan-perusahaan.
Generasi Y dikenal sebagai generasi yang mobile. Mereka adalah generasi yang akrab dengan kecanggihan teknologi informasi seperti gadget. Golongan Gen Y adalah orang yang terlahir setelah 1980.
Namun, menurut Haryo, Gen Y tidak dibatasi usia dan lebih dicirikan dari karakternya. Haryo menilai Gen Y dalam ruang lingkup sumber daya manusia adalah generasi yang bekerja tidak terikat waktu, yang menginginkan nilai diri bertambah melalui pekerjaan. “Turn over-nya tinggi,” ujar Haryo.
Konsultan perekrutan karyawan ini menilai Gen Y merupakan generasi yang terus mencari minat dan bakatnya dan selalu berupaya menemukan passion-nya. Karakter Gen Y lebih suka bergaya dan berkostum santai. Seringkali masalah busana ini menjadi pertimbangan mencari tempat bekerja yang cocok. Tak mengherankan jika perusahaan mapan yang sudah memiliki budaya dan model kerja teratur dan konstan tak menjadi pilihan generasi ini. “Mereka lebih senang perusahaan yang membolehkan bekerja mengenakan kaus dan memiliki fleksibilitas waktu,” kata Haryo.
Karakter lainnya adalah pekerja Gen Y lebih mengutamakan perusahaan yang mampu mendorong pekerjanya mendapatkan penampilan lebih oke. “Performance-nya bertambah,” katanya.
Gen Y adalah generasi yang tumbuh di tengah hiruk pikuknya perkembangan teknologi. Kepekaan teknologi jugalah yang memengaruhi kepekaan Gen Y terhadap perubahan. Mereka tidak takut perubahan, namun seringkali tidak sabar melalui proses menuju perubahan itu. Mereka adalah generasi yang akrab dengan Internet dan sangat aktif di media jejaring sosial. Gen Y dikenal sebagai generasi yang egosentris, berpusat pada diri sendiri dan senang unjuk diri. Majalah Time menyebut generasi ini sebagai ‘me me me generation.’
Menurut Lita Mucharom, Human Capital Management Coach dari Langkah Mitra Selaras, dalam bekerja para Gen Y ini cenderung seperti kutu loncat. Ketika tempat kerja tak lagi menyenangkan atau tidak sesuai dengan gaya hidup, mereka tak segan-segan mencari tempat kerja baru. Yang dikejar di perusahaan baru biasanya income tahunan yang lebih tinggi dan prestise bekerja di lingkungan kerja yang lebih sophisticated, lebih keren.
“Kesempatan untuk traveling juga menjadi alasan kuat bagi generasi ini untuk berpindah kerja. Selain itu, pengaruh ikatan teman juga dengan mudah membuat mereka mengubah karier dan pekerjaan,” ujar Lita.
Ciri lain gaya hidup Gen Y ini adalah gemar membeli produk dan layanan yang mencerminkan kepribadian mereka, trendi, namun dengan harga yang relatif terjangkau. Mereka tidak suka dengan gaya penjualan dan iklan yang cenderung memaksa. Sebaliknya mereka sangat peduli dengan rekomendasi teman-teman sebayanya. “Rekomendasi ini, yang acap didapatkan melalui jejaring sosial, acap lebih dipercaya ketimbang iklan-iklan perusahaan,” ungkap Himawan Wijanarko, Direktur The Jakarta Consulting Group.

  • Baca juga: Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

Standar dan Gaya Hidup

Jennie S. Bev, seorang kolumnis dan penulis buku kelahiran Indonesia yang kini bermukim di California, Amerika
Laporan aporan Utamatama Serikat (AS) mengatakan, Gen Y diNegeri Paman Sam pada umumnya hidup dengan standar hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan orang tua mereka (Generasi Baby Boomers dan Generasi X), sehingga mempunyai kriteria “sukses” yang berbeda pula. Mereka terlatih oleh keadaan untuk menjadi peka akan sosial dan peka akan nilai suatu produk yang sebenarnya.
Kalau Generasi Baby Boomers tergila-gila dengan brand mewah sebagai simbol ‘sukses finansial’ seperti Hermes, Louis Vuitton, Ferrari, Jaguar, dan Mercedes-Benz, kriteria sukses mereka adalah seperti mendiang Steve Jobs dengan Apple-nya atau para social entrepreneurs yang bisa bekerja dari mana saja dengan modal minimal, seperti Chris Guillebeau.
Generasi yang disebut juga dengan Generasi Milenium ini tidak anti dengan kemewahan, namun mereka sangat sadar akan stress level bumi dengan segala macam polusi dan global warming ekologi, serta sadar akan satu dunia yang disatukan dengan Internet, sehingga lokasi geografis bukan lagi suatu penentu di mana mereka harus berada. Mereka bisa berada di lebih dari satu tempat dengan bekerja melalui Web dengan cloud technology-nya. “Mereka bisa punya teman dan partner kerja yang berada di belahan bumi yang berbeda. Mereka sadar akan perbedaan jam namun ini tidak menjadi penghalang, bahkan pemersatu,” kata Jennie.
Uniknya, mental kelimpahan informasi ini dibarengi dengan mental kesederhanaan gaya hidup. Paradoks ini menjadikan Gen Y sangat peka akan keadaan sosial, walaupun kebanyakan mereka akses via Internet.
Menurut Jennie, personal taste alias citarasa yang sangat personal sudah menjadi gaya hidup mereka. Kalau generasi orang tua mereka mengenakan jam tangan Rolex sebagai simbol sukses, mereka punya standar berbeda seperti sudah mempunyai online business yang menghasilkan 4 sampai 5 digit dollar AS setiap bulan. Jadi sebenarnya membeli Rolex bukan lagi menjadi masalah.
Mereka sadar akan hak-hak mereka sebagai warga dunia dan ikut aktif di kancah pergerakan hak seperti di Arab Spring dengan Facebook dan Twitter revolution. Bagi mereka, membeli satu tas tangan Hermes seharga 30.000 dollar AS tidaklah se-prestise menggerakkan massa melalui online fund raising untuk kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan dan revolusiner.
Apalagi dengan akses instan ke beberapa listing properti yang telah disita bank dan negara. Gen Y dengan mudah mengerti bahwa nilai luxury branded products hanya ilusi yang lebih baik diinvestasikan ke dalam bentuk investasi lain.
Mereka juga sadar akan kekuatan crowdfunding dan private equity, serta tidak lagi menunggu bisnis-bisnis mereka cukup besar untuk IPO di NYSE atau JSE.
“Dengan kata lain, para Milenial adalah generasi yang menghargai kesederhanaan materi, namun kaya akan kekuataan ilmu pengetahuan dan ide-ide progresif. Siapkan perusahaan Ada memenuhi kebutyhan para Milenial yang cerdas, peka sosial, luar bias atanggap, dan tidak tergila-gila luxury brand,” kata Jennie.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif
 
 
 
 
 
Previous Post

Memfasilitasi Para Digital Native

Next Post

Generari Yang Inovatif Tetapi Tidak Loyal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Sejarah Uang

Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

by Stella Gracia
21 Oktober 2026 - 14:20

INDEF menyoroti fenomena makan tabungan akibat inflasi pangan di atas 5 persen yang membuat rata-rata saldo tabungan di bawah Rp100...

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Terpakai Rp17 Triliun, Bank Mandiri Jelaskan Fasilitas Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin Group

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Menyebar Uang Muka 1 Persen

Menyebar Uang Muka 1 Persen

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance