AAUI menyiapkan usulan pembenahan ekosistem ke OJK untuk mengevaluasi target pertumbuhan aset 9% dan RPJMN di tengah penurunan laba industri 32,3% pada Semester I/2026.
Stabilitas.id — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) tengah menyiapkan usulan dan masukan komprehensif kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait peta jalan industri perasuransian. Langkah ini diambil guna merespons dinamika kinerja Semester I/2026, di mana laba bersih industri terperosok 32,3% (yoy) menjadi Rp5,41 triliun akibat lonjakan klaim serta tantangan struktural yang belum terselesaikan.
Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, menekankan pentingnya evaluasi target-target jangka panjang agar tetap berbasis pada realitas pasar. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2029, kontribusi sektor asuransi ditargetkan mencapai 10%–11% dari PDB, serta meningkat hingga 20% dari PDB pada Indonesia Emas 2045. Di sisi lain, OJK menargetkan pertumbuhan aset industri sebesar 9% per tahun.
“Kalau kita lihat target RPJMN 2029 itu 10%–11% dari PDB, dan target OJK pertumbuhan aset industri asuransi sampai 9% per tahun, kita harus melihat secara realistis apakah ini bisa tercapai. Basis tahun 2026 ini kita semua mengalami kompresi. Kita sedang menyiapkan usulan masukan ke OJK untuk merumuskan langkah konkret,” ujar Budi di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
BERITA TERKAIT
Budi juga menyoroti sejumlah kendala sistemik yang membayangi operasional pelaku usaha, mulai dari keterbatasan kapasitas penyerapan reasuransi di dalam negeri hingga persaingan biaya yang tidak sehat.
“Banyak sekali hal yang harus kita lakukan perbaikan. Belum lagi kondisi kapasitas reasuransi dalam negeri yang memprihatinkan, serta struktur biaya akuisisi atau komisi yang tidak rasional. Secara konsolidasi, ini belum mendapatkan penanganan yang positif,” tambah Budi.
Ringkasan Indikator Keuangan Asuransi Umum Triwulan II/2026
| Indikator Keuangan (Rp Miliar) | Q2 2025 | Q2 2026 | Pertumbuhan (YoY) |
| Pendapatan Premi | 62.239 | 61.252 | -1,6% |
| Klaim Bruto | 23.934 | 29.518 | +23,3% |
| Hasil Underwriting | 14.076 | 11.535 | -18,1% |
| Laba Setelah Pajak | 7.988 | 5.410 | -32,3% |
| Nett Loss Ratio | 55,9% | 62,4% | +6,5% pts |
Anomali
Dari angka realisasi tersebut, industri asuransi umum Indonesia menghadapi anomali kinerja pada Semester I/2026. Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang solid sebesar 5,29% dan ekspansi kredit perbankan hingga 11,51%, laba bersih industri asuransi umum justru terperosok 32,3% (yoy) menjadi Rp5,41 triliun akibat pembengkakan klaim.
Berdasarkan data AAUI, perolehan premi komulatif terkoreksi 1,6% (yoy) menjadi Rp61,25 triliun. Sebaliknya, total klaim bruto melonjak 23,3% (yoy) mencapai Rp29,52 triliun, yang sebagian besar didorong oleh lini asuransi kredit dan properti.
Wakil Ketua AAUI, Heru Supriyadi, menilai kondisi makroekonomi dan sektor perbankan sebenarnya sangat kondusif untuk menopang pertumbuhan bisnis asuransi.
“Secara umum kondisi ekonomi Indonesia termasuk yang bagus atau kondusif untuk pertumbuhan asuransi. Pertumbuhan ekonomi tumbuh 5,29%, kredit perbankan tumbuh 11%, dan DPK tumbuh 13%. Kalau perbankan tumbuh dan penyaluran kredit berjalan, seharusnya mencerimkan potensi pertumbuhan bagi industri asuransi,” ujar Heru.
Salah satu penekan utama kinerja operasional adalah lonjakan klaim asuransi kredit yang mengerek loss ratio lini tersebut hingga 99,6%. Pembengkakan klaim mencapai Rp9,28 triliun atau menyumbang 33,9% dari total klaim industri.
Menanggapi hal ini, Heru mengungkapkan adanya penyesuaian strategi dari sejumlah pelaku industri, khususnya perusahaan asuransi BUMN di bawah naungan Danantara, untuk membatasi risiko pada lini asuransi kredit.
“Ada suatu semangat dari asuransi-asuransi di bawah Danantara untuk mengurangi porsi credit insurance. Dalam istilah yang terbaru adalah ‘pemurnian asuransi umum’, sehingga mengurangi porsi yang berkaitan dengan credit insurance. Ini menjadi salah satu penyumbang signifikan pada penurunan perolehan,” jelas Heru.
Ia menambahkan, risiko asuransi kredit yang ditanggung industri saat ini umumnya mendominasi pinjaman segmen menengah ke bawah (di bawah Rp3 miliar hingga Rp5 miliar), sementara kredit korporasi skala besar ditahan oleh internal perbankan.
Prospek Pemulihan Properti dan Isu Mobil Listrik
Selain kredit, pendapatan premi dari lini asuransi properti terkoreksi 13,6% (yoy) menjadi Rp15,51 triliun, sementara nilai klaimnya membengkak 75,8% (yoy) menjadi Rp5,78 triliun. Menurut Heru, penurunan premi properti dipicu oleh ketidaksesuaian jadwal (mismatch) perpanjangan polis.
“Untuk properti, ada mismatch waktu yang biasanya renewal. Nanti saya yakin di triwulan III sudah recover lagi untuk pasar properti,” tegasnya.
Di sisi lain, penetrasi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang mencapai pangsa pasar 15,9% turut membuka tantangan baru. AAUI mencatat penutupan risiko untuk mobil listrik masih menunjukkan anomali karena industri masih mengkaji skema tarif premi yang ideal serta pengendalian biaya klaim komponen baterai.***

















