Klik tombol berikut ini untuk memesan edisi digital Majalah Stabilitas

Edisi September 2016

8
VIEWS
0
SHARES
8
VIEWS

Pertumbuhan ekonomi dinilai oleh banyak pengamat dan ekonom akan sulit untuk mencapai level 5,2 persen seperti yang ditargetkan oleh pemerintah dalam APBN. Pencapaian pertumbuhan kuartal
satu dan dua sedikit banyak menguatkan sinyal tersebut. Tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan hanya mencapai 4,92 dan kuartal selanjutnya sebesar 5,1 persen. Bahkan Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan akan hanya
mampu mencapai level 5,04 persen.

Otoritas moneter dan perbankan yang sudah bisa menebak bahwa target pertumbuhan akan sulit tercapai, akan mengeluarkan kebijakan yang diharapkan bisa sedikit membantu ekonomi mendekati target. Hal demikian juga sudah dilakukan pemerintah.

Bank Indonesia, menyiapkan pelonggaran kebijakan makroprudensial dengan menurunkan persentase uang muka pembiayaan properti. Langkah itu mampu mendorong laju penyaluran kredit yang mulai lambat tahun ini. Pertumbuhan kredit tahun ini kemungkinan masih akan tertahan oleh pelemahan daya beli atau konsumsi masyarakat. Hingga triwulan kedua angkanya baru mencapai 8 persen, masih jauh dari target 10-12 persen hingga akhir tahun ini.

BERITA TERKAIT

Sementara itu Pemerintah telah mengumumkan paket kebijakan ke-13 yang berpusat pada industri properti juga. Paket kebijakan ini menitikberatkan pada mempercepat penyediaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah dengan harga yang terjangkau. Caranya adalah dengan menyederhanakan sekaligus mengurangi regulasi dan biaya pengembang untuk membangun rumah.

Tahun lalu OJK sudah melakukan relaksasi dengan mengeluarkan 35 kebijakan. Kolaborasi tiga otoritas itu ditujukan untuk mendorong dan menyelamatkan pertumbuhan ekonomi tahun ini. Dalam laporan utama yang akan Anda  baca pada lembar-lembar berikutnya, kami sajikan tulisan yang mengupas kondisi ekonomi dan tantangan-tantangannya pada tahun ini. Juga sedikit overview dari kebijakan tiga otoritas tersebut.

Pada tulisan kedua, kami akan ulas mengenai pentingnya sektor konsumsi di mata otoritas sehingga mereka menjadikan sektor tersebut tumpuan harapan untuk mendorong pertumbuhan. Juga dibahas perkembangan sektor kredit
konsumtif beberapa tahun sebelumnya.

Pada tulisan selanjutnya akan kami bedah paket kebijakan ke-13 yang dilansir pemerintah bulan Agustus lalu. Serta akan dibahas sampai seberapa jauh paket itu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor perumahan. Lalu
apa saja tantangan-tantangannya dari sektor-sektor ekonomi terkait.

Selanjutnya akan dibahas juga kebijakan LTV yang baru saja dilansir Bank Indonesia akhir Agustus lalu. Melalui kebijakan itu pula, BI berharap mampu meningkatkan permintaan domestik dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Respons perbankan atas kebijakan ini juga akan diulas.

Juga kami bahas mengenai keefektifan dari kebijakan OJK yang tahun lalu sudah mengeluarkan 35 aturan untuk mendorong ekonomi. Tulisan ini akan membahas dampak dari kebijakan tersebut secara keseluruhan ataupun jika dilihat secara industri hingga tahun ini.

Tak lupa pula kami tampilkan beberapa tulisan mengenai tax amnesty sebagai follow up laporan utama kami pada edisi sebelumnya.

Dapatkan Majalah Stabilitas Edisi September 2016 di tautan berikut.

Klik tombol berikut ini untuk memesan edisi digital Majalah Stabilitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

TERPOPULER

Terbaru

STABILITAS CHANNEL

TWITTER STABILITAS

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.