• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

EDITORIAL : Keamanan Data dan Kedaulatan Negara

by Sandy Romualdus
19 November 2021 - 09:23
106
VIEWS
EDITORIAL : Keamanan Data dan Kedaulatan Negara
0
SHARES
106
VIEWS

Dalam era di mana data menjadi komoditas yang sangat penting dan menjadi obyek yang diperebutkan semua pihak, sisi keamanan data kemudian menjadi hal yang seharusnya menjadi prioritas penting. Jika dibuat perbandingan, mungkin penjagaan data di zaman ini seharusnya sudah setara dengan pengamanan perbatasan sebuah negara. Bisa jadi lebih ketat dari itu, karena musuh yang tidak terlhat lebih berbahaya ketimbang yang terlihat.

Penjagaan yang lemah dan tingkat keamanan yang cenderung mudah dibobol menjadi kerentanan tersendiri bagi sebuah negara. Kondisi itu, bahkan berpotensi melemahkan kedaulatan negara, jika dibiarkan terlalu lama. Oleh karena itu gelombang adopsi teknologi digital yang tak terbendung dan dilakukan oleh hampir semua pihak sejatinya harus sejalan dengan penguatan sisi sekuritinya.

  • Baca juga: Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

Akan tetapi di Indonesia yang terjadi tidaklah demikian. Kita melihat Indonesia seperti kotak yang tidak tergembok, meski terkunci. Para penjahat di dunia maya yang mengincar data-data penduduk seprti dengan mudahnya membuka kotak tersebut, dan mengambil isinya.

Kasus-kasus yang belakangan terjadi setidaknya bisa membuktikan hal tersebut. Lihata saja ketika data dari Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) bidang Kesehatan dikabarkan telah mengalami pembobolan data. Kita bisa membayangkan data seluruh penduduk Indonesia, termasuk data pribadi yang sensitiv, kini telah diketahui oleh pihak lain.

BERITA TERKAIT

Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Editorial : Evaluasi dan Ekspektasi

Ya data sebanyak lebih dari 275 juta jiwa itu telah dipegang oleh pihak yang bisa melakukan apa saja terhadap data itu. Mereka bisa menyusun sebuah profil kependudukan yang bisa digunakan untuk memasarkan sesuatu, bahkan lebih menyeramkan dari itu bisa merekayasa kondisi dan kebijakan.

Sebelumnya, juga diketahui sebuah aplikasi milik Kementerian Kesehatan juga kena bobol para peretas. Adalah Electronic Health Alert Card (eHAC), atau kartu kewaspadaan kesehatan elektronik yang wajib diunduh bagi orang asing maupun warga negara Indonesia yang bepergian di dalam negeri, yang jadi sasarannya.

Padahal eHAC dibuat agar dapat mendukung kemudahan akses pelayanan, kepada semua calon penumpang dengan tujuan Negara Indonesia, untuk di data sebagai kontrol bagi negara terhadap risiko terjadinya penyebaran penyakit yang dibawa oleh penumpang. Jika sudah demikian, apakah warga negara asing masih mau mengunduh atau mengisi aplikasi itu.

  • Baca juga: EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Belum lagi jika kita meneliti lebih lanjut pembobolan data dari perusahaan-perusahaan lainnya, sebut saja BRI Life yang juga dikabarkan menjadi sasarannya. Atau kita tarik lebih jauh ke tahun lalu ketika beberapa start up juga terkena aksi pembobolan data. Atau lebih jauh lagi ketika Komisi Pemilihan Umum sempat terpapar pencurian data para pemilih pada pemilihan umum 2019 lalu.

Di tengah tsunami penyesuaian teknologi internet yang terjadi saat ini, semua orang memang berbondong-bondong membangun sestem teknologi informasinya agar lebih digital. Akan tetapi strategi tersebut tampaknya belum dibarengi oleh tingkat keamanan siber yang mumpuni. Perusahaan-perusahaan banyak yang terkesan hanya mengejar gengsi untuk tampil lebih digital, namun abai pada pengembangan sistem sekuritinya.

Hal itu terutama harus diperhatikan oleh industri keuangan. Industri ini memang yang paling responsif terhadap perubahan digital saat ini. Sayangnya kondisi itu juga menjadikan sector itu incaran para penjahat siber untuk mengambil keuntungan dari lobang-lobang yang ada pada sistem keamanannya.

Terbukti bahwa selama lima tahun belakangan ini, industri keuangan selalu menjadi sasaran para hacker dan menjadi salah satu sektor tertinggi yang mendapat serangan siber (cyber attack)

Oleh karena itu sudah seharusnya stakeholder industri menjadikan sisi keamanan siber sebagai prioritas utama beriringan dengan strategi pengembangan teknologi digital. Perusahaan harus lebih pruden sejak tahap awal pengembangan dan transformasi teknologi digital. Mereka harus sudah tidak boleh lagi sembarangan memilih vendor pengembang aplikasi, dengan hanya menekankan sisi efisiensi biaya.

Khusus untuk perusahaan milik pemerintah yang kerap terlalu longgar dalam hal tender memilih pengembang, harus sudah mulai meninggalkan cara lama itu. Bahkan sebuah lembaga terutama lembaga pemerintah tidak perlu memiliki aplikasi terlalu banyak sehingga tidak membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk menjaganya.

  • Baca juga: Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Di sisi lain, otoritas mesti menerbitkan peraturan khusus mengenai pengamanan data nasabah bagi setiap pelaku jasa keuangan. Sementara itu pemerintah juga mesti mempercepat penerbitan Undang-Undang Perlindungan Data Nasabah, namun tetap harus dilakukan secara pruden dan tidak serampangan. Perlindungan data warga negara harus dipastikan menjadi fokus utama dari aturan yang akan diterbitkan itu,  seperti halnya pada tindakan melindungi wilayah kedaulatan negara. Aturan tersebut jangan sampai dipolitisasi dan hanya menguntungkan sebagian pihak saja.

Indonesia, harus diakui memang tertinggal dalam hal pengamanan data. Dalam zaman dimana data adalah sebuah kekuatan sekaligus kelemahan, maka keamanan data adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi. Kalau tidak, maka kedaulatan negara menjadi taruhannya.***

Tags: EditorialKedaultan NegaraKemanananan Data
 
 
 
 
 
Previous Post

Stabilitas Edisi 180: Di Bawah Ancaman ‘Cyber Crime’

Next Post

Digitalisasi yang Abaikan Sekuriti

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Sejarah Uang

Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

by Stella Gracia
21 Oktober 2026 - 14:20

INDEF menyoroti fenomena makan tabungan akibat inflasi pangan di atas 5 persen yang membuat rata-rata saldo tabungan di bawah Rp100...

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Himpun Dana Lebih dari Rp5 Miliar di FinFest 2026, OJK Apresiasi Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

Sikapi Dinamika Bursa, BNI Pacu Aksi Buyback Terukur Berlandaskan Aset Rp1.434 Triliun

Di Rakornas TPAKD 2026, Presiden Prabowo Janji Siapkan Pembiayaan Rakyat Rp400 Triliun

OJK Tegaskan Sanksi Denda Rp2,1 Triliun Bukan Akhir, Buka Peluang Jerat Pidana Pasar Modal

Redam Volatilitas Pasar, BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

Perkuat Diplomasi Ekonomi, BRI Dorong Korporasi dan UMKM Lokal Masuk Rantai Pasok Global

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
EDITORIAL : Keamanan Data dan Kedaulatan Negara

Digitalisasi yang Abaikan Sekuriti

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance