Bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets stabil di 0,5% pada Juli 2026. Cermati proyeksi rebalancing saham CPIN dan GOTO jelang evaluasi Agustus.
Stabilitas.id – Posisi pasar saham Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (MSCI EM) mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam satu dekade. Kendati demikian, pelaku pasar masih menantikan kepastian dari peninjauan kuartalan indeks MSCI pada pertengahan Agustus 2026.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, mencatat bahwa bobot Indonesia di MSCI EM kini telah stabil di kisaran 0,5% per Juli 2026, membaik dibandingkan titik terendah sebesar 0,4% pada Juni 2026. Sebagai pembanding, pada Desember 2025 bobot Indonesia berada di level 1,2%.
Stabilisasi tersebut didorong oleh kinerja impresif indeks MSCI Indonesia yang menguat 12,5% secara month-to-date (MTD) sepanjang Juli 2026. Kinerja ini berbanding terbalik dengan MSCI Emerging Markets yang justru terkoreksi sekitar 4%.
BERITA TERKAIT
“Kondisi ini terjadi seiring meredanya penguatan saham-saham bertema kecerdasan buatan (AI) di pasar global serta terkoreksinya pasar saham Korea Selatan sebesar 21,6% secara MTD,” tulis Wilbert dalam risetnya, dikutip Selasa (28/7).
Arus Keluar Modal Asing Mereda
Pemulihan pasar modal domestik juga tecermin dari meredanya tekanan foreign outflow. Sepanjang Juli 2026, arus modal asing yang keluar menyusut menjadi sekitar Rp 4,1 triliun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata outflow bulanan pada semester I-2026 yang mencapai Rp 12,3 triliun.
Meski demikian, Wilbert menilai kenaikan bobot Indonesia yang lebih signifikan baru akan tercipta apabila MSCI mencabut kebijakan pembekuan (freeze) terhadap penambahan maupun peningkatan status konstituen indeks.
Pasar saat ini fokus mengamati hasil quarterly index review yang akan diumumkan pada 13 Agustus 2026 dan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Proyeksi Nasib CPIN dan GOTO
Mirae Asset memperkirakan tidak ada saham baru yang masuk ke dalam indeks MSCI pada evaluasi Agustus mendatang akibat kebijakan freeze. Namun, potensi penyesuaian status terjadi pada saham-saham berikut:
-
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN): Berpotensi mengalami penurunan status akibat pelemahan harga saham sekitar 22,5% sejak Mei lalu, yang menyebabkan kapitalisasi pasar free float-nya turun di bawah ambang batas. Potensi passive outflow diperkirakan mencapai Rp 500 miliar (sekitar 150 juta saham).
-
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): Menjadi perhatian utama pasar. Meski rasio likuiditas Annualized Traded Value Ratio (ATVR) 3 bulan (41,3%) dan 12 bulan (72,8%) masih memenuhi syarat, harga saham yang bertahan di level tick floor Rp 50 serta ATVR Juli yang menyusut ke 0,6% dapat menjadi bahan diskresi MSCI. Jika dikeluarkan dari indeks, potensi passive outflow mencapai Rp 1 triliun (sekitar 20 miliar saham).
Dampak Terbatas, Momentum Akumulasi H2-2026
Mirae Asset menilai dampak penyesuaian bobot CPIN maupun GOTO terhadap pasar secara keseluruhan relatif terbatas, yakni hanya berkisar 0,01 hingga 0,03 poin persentase. Kapasitas pasar domestik diperkirakan mampu menyerap potensi tekanan dari passive outflow tersebut.
Atas dasar itu, Mirae Asset mempertahankan pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia pada semester II-2026. Investor disarankan untuk memanfaatkan volatilitas harga jelang effective date 31 Agustus 2026 sebagai momentum akumulasi.
Adapun kepastian pemulihan bobot Indonesia secara penuh diproyeksikan baru akan lebih terang pada peninjauan indeks MSCI periode November 2026 mendatang. ***

















