JAKARTA, Stabilitas.id – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2022 mengalami deflasi sebesar 0,21% (mtm) setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,64% (mtm).
Deflasi terutama bersumber dari penurunan harga kelompok volatile food dan penurunan inflasi administered prices.
Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK Agustus 2022 tercatat 4,69% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 4,94% (yoy).
BERITA TERKAIT
Selanjutnya, Inflasi inti pada Agustus 2022 terjaga sebesar 0,38% (mtm), meningkat dibandingkan dengan inflasi Juli 2022 yang sebesar 0,28% (mtm).
Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh inflasi komoditas dalam kelompok pendidikan, serta komoditas kontrak dan sewa rumah yang didorong kenaikan mobilitas masyarakat dan berlanjutnya proses pemulihan ekonomi.
Peningkatan lebih lanjut tertahan oleh deflasi komoditas emas perhiasan seiring dengan pergerakan harga emas global. Secara tahunan, inflasi inti Agustus 2022 masih terjaga rendah sebesar 3,04% (yoy), meski lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,86% (yoy).
Kelompok volatile food pada Agustus 2022 mencatat deflasi sebesar 2,90% (mtm) setelah pada bulan sebelumnya mencatat inflasi sebesar 1,41% (mtm).
Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh deflasi aneka cabai dan bawang merah sejalan dengan peningkatan pasokan dari daerah sentra produksi. Di sisi lain, komoditas beras dan telur ayam ras mengalami inflasi seiring dengan berakhirnya masa panen dan peningkatan permintaan.
Secara tahunan, kelompok volatile foods mengalami inflasi 8,93% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 11,47% (yoy).
Inflasi kelompok administered prices pada Agustus 2022 mencatat inflasi 0,33% (mtm), menurun dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 1,17% (mtm).
Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan udara sejalan dengan meredanya tekanan harga avtur. Penurunan inflasi lebih lanjut tertahan oleh inflasi bahan bakar rumah tangga dan tarif listrik, seiring dengan penyesuaian harga energi nonsubsidi.
Secara tahunan, kelompok administered prices mengalami inflasi 6,84% (yoy), lebih tinggi dari inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 6,51% (yoy).
Berbagai perkembangan tersebut diprakirakan dapat mendorong inflasi pada tahun 2022 dan 2023 berisiko melebihi batas atas sasaran 3,0±1% dan karenanya diperlukan sinergi kebijakan yang lebih kuat antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia untuk langkah-langkah pengendaliannya.
Bank Indonesia terus memperkuat sinergi antara pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan ketahanan pangan melalui Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi (TPIP dan TPID), serta akselerasi pelaksanaan gerakan nasional pengendalian inflasi pangan (GNPIP).***





.jpg)










