Malaysia kembali ke pasar obligasi dolar setelah 5 tahun dengan merilis sukuk US$ 1,5 miliar di tengah ancaman membengkaknya subsidi BBM.
Stabilitas.id – Pemerintah Malaysia resmi kembali memburu dana segar di pasar keuangan global dengan menerbitkan obligasi berdenominasi Dolar AS senilai US$ 1,5 miliar. Aksi korporasi ini menjadi penerbitan obligasi dolar pertama Negeri Jiran dalam lima tahun terakhir.
Langkah penggalangan dana ini dilakukan melalui skema surat berharga syariah (sukuk) yang terbagi ke dalam dua seri instrumen. Hasil penerbitan akan dialokasikan untuk pembiayaan proyek infrastruktur nasional serta pembayaran kembali (refinancing) kewajiban utang jatuh tempo.
Penerbitan instrumen ini meraup antusiasme tinggi dari investor internasional hingga mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 4,7 kali lipat.
BERITA TERKAIT
“Kelebihan permintaan yang kuat dengan spread terketat yang pernah ada mencerminkan kepercayaan investor global yang berkelanjutan terhadap prospek ekonomi dan kredibilitas kebijakan Malaysia,” ujar Menteri Keuangan Kedua Malaysia, Amir Hamzah Azizan, dalam pernyataan resminya, Jumat (24/7).
Tingginya permintaan memungkinkan pemerintah mereduksi harga akhir sebesar 30 basis poin (bps) dari penawaran awal, sekaligus mencetak rekor spread terketat sepanjang sejarah penerbitan sukuk global Malaysia.
Rincian struktur penawaran sukuk tersebut meliputi:
-
Seri Tenor 2032 (April 2032): Nilai penerbitan US$ 850 juta dengan imbal hasil (yield) sebesar 4,612%.
-
Seri Tenor 2036 (Juli 2036): Nilai penerbitan US$ 650 juta dengan imbal hasil (yield) sebesar 4,949%.
Membengkaknya Beban Subsidi BBM & Geopolitik
Kembalinya Malaysia ke pasar surat utang global terjadi di tengah tekanan fiskal domestik akibat melonjaknya harga minyak mentah pasca-eskalasi konflik ketegangan di Timur Tengah.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sebelumnya telah memperingatkan bahwa tagihan subsidi bensin dan solar pemerintah berpotensi membengkak hingga 40 miliar ringgit (US$ 9,8 miliar) pada tahun ini jika kenaikan harga pasar berlanjut.
Angka tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan alokasi anggaran subsidi awal dalam APBN 2026 yang sebesar 15 miliar ringgit, sehingga mengancam target pelebaran defisit fiskal negara.
Meski dibayang-bayangi ketidakpastian pasar global serta potensi kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat, fundamental ekonomi Malaysia dinilai relatif tangguh.
Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia tumbuh melampaui ekspektasi sebesar 5,8% YoY pada kuartal II-2026. Pertumbuhan ini disokong oleh kuatnya konsumsi domestik, penguatan ekspor produk elektronik, serta derasnya arus investasi pada rantai pasok industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). ***

















