JULO salurkan pembiayaan Rp28 triliun ke 3,3 juta pengguna di 38 provinsi. Terapkan sistem risk-based pricing independen dengan bunga mulai 0,1% per hari.
Stabilitas.id – Perusahaan teknologi finansial (fintech lending) PT JULO Teknologi Finansial (JULO) mencatatkan akumulasi penyaluran pembiayaan menembus Rp28 triliun yang terdistribusi kepada lebih dari 3,3 juta pengguna di 38 provinsi Indonesia.
Dari total portofolio tersebut, porsi sebesar Rp6,3 triliun diserap pengguna sebagai tambahan modal kerja usaha mikro dan menengah, sementara Rp1,89 triliun dimanfaatkan untuk pembiayaan sektor pendidikan. Sisa alokasi digunakan untuk kebutuhan peningkatan kualitas hidup seperti kesehatan, renovasi rumah, dan kebutuhan rumah tangga.
Presiden Direktur JULO Harri Suhendra menjelaskan bahwa kunci ekspansi terukur perseroan terletak pada pengembangan sistem penilaian risiko (credit scoring) dan skema risk-based pricing secara mandiri yang dirintis sejak 2016.
BERITA TERKAIT
Melalui pendekatan tersebut, penetapan tingkat bunga disesuaikan dengan profil risiko serta kapasitas finansial masing-masing nasabah, dengan penawaran bunga mulai dari 0,1% per hari.
“Di JULO, risk-based pricing menjadi fondasi untuk memperluas akses kredit kepada jutaan masyarakat Indonesia secara bertanggung jawab. Sistem penilaian risiko mandiri ini memungkinkan kami menekan rentang biaya jauh di bawah batas atas regulasi, sehingga secara harga kami sangat kompetitif,” ujar Harri dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (7/8/2026).
Langkah penataan pricing berbasis risiko ini sejalan dengan tren penguatan tata kelola (corporate governance) industri peer-to-peer (P2P) lending yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menanggapi dinamika regulasi di sektor ini, Ahli Hukum Persaingan Usaha Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait menilai industri keuangan digital yang sedang berkembang membutuhkan kombinasi antara petunjuk teknis (guidance), pembinaan kepatuhan (compliance), serta langkah preventif guna menciptakan kepastian hukum dan iklim persaingan yang sehat.
Dari segi kapabilitas produk, platform fintech yang disokong investor global seperti Saratoga Investama dan East Ventures ini menawarkan fasilitas limit kredit hingga Rp50 juta dengan opsi tenor pengembalian hingga 12 bulan.
Strategi ini difokuskan untuk menjangkau masyarakat segmen underbanked yang belum terlayani secara optimal oleh lembaga keuangan konvensional, sekaligus menjaga kualitas tingkat keberhasilan penyaluran (non-performing loan/NPL) perseroan tetap terkendali. ***

















