Stabilitas.id — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat merespons gelombang penghapusan (delisting) sejumlah saham emiten domestik dari papan indeks internasional. Otoritas pasar modal berkomitmen untuk menggandeng dan mengasistensi emiten-emiten potensial tanah air agar dapat kembali menembus daftar indeks global bergengsi, Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan FTSE Russell.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memaparkan, manajemen bursa tengah menyusun jadwal draf pertemuan tertutup untuk melangsungkan diskusi maraton bersama jajaran manajemen emiten yang dinilai memenuhi kualifikasi kepatuhan global tersebut.
“Kami akan mengajak mereka berdiskusi terkait langkah bersama untuk menambah jumlah perusahaan tercatat (listed companies) yang mampu menembus indeks global. BEI akan memberikan dukungan teknis penuh agar proses ini berjalan baik dan selaras dengan regulasi terbuka yang ditetapkan oleh global index provider,” urai Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, dikutip Selasa (26/5/2026).
BERITA TERKAIT
Jeffrey menambahkan, variabel utama yang dibidik bursa dalam menyaring draf emiten potensial bersandar pada dua indikator likuiditas makro, yakni perusahaan yang memiliki nilai kapitalisasi pasar (market cap) jumbo di kisaran standar internasional serta memiliki rasio volume perdagangan harian (free float liquidity) yang aktif dan sehat.
Langkah taktis BEI ini menjadi sangat krusial mengingat arus modal asing (foreign inflow) jangka panjang dari pengelola dana pensiun global maupun reksa dana dunia umumnya bergerak secara pasif mengikuti portofolio (benchmark) yang dirilis oleh MSCI dan FTSE Russell.
Efektif Akhir Mei dan Juni
Komitmen agresif BEI untuk memoles daya tarik emiten dalam negeri dipicu oleh hasil evaluasi berkala (rebalancing) kuartalan yang merontokkan posisi saham Indonesia di kancah regional:
-
Indeks MSCI (Pengumuman 13 Mei 2026): Penyedia indeks global ini mendepak 5 saham Indonesia dari daftar MSCI Global Standard Indexes dan mencoret 13 saham dari papan MSCI Small Cap Indexes. Kebijakan pengosongan portofolio ini akan berlaku efektif per 29 Mei 2026.
-
Indeks FTSE Russell (Pengumuman 23 Mei 2026): Menghapus 4 saham emiten domestik dari struktur FTSE Global Equity Index Series (GEIS) yang dijadwalkan efektif per 22 Juni 2026.
Depak massal ini sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar modal terkait potensi tekanan jual (capital outflow) oleh investor institusi asing menjelang akhir semester pertama tahun buku 2026.
IHSG Parkir di Level 6.206
Meski dibayangi sentimen penataan indeks global dan rapor defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I/2026 yang membengkak hingga US$9,15 miliar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Senin (25/5) justru sukses mendarat di zona hijau. IHSG ditutup menguat 44,30 poin atau naik 0,72% ke posisi 6.206,35. Sejalan dengan induknya, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 ikut terkerek naik sebesar 1,74% ke level 631,21.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjabarkan, penguatan indeks domestik ini mengekor reli positif bursa saham di kawasan Asia Pasifik yang dipicu oleh mencairnya risiko geopolitik makro di Timur Tengah. Investor merespons positif sinyal kuat kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi membuka kembali jalur distribusi minyak vital di Selat Hormuz.
Berdasarkan data klasifikasi Indeks Sektoral IDX-IC, performa pasar ditopang oleh penguatan tujuh sektor saham. Lini transportasi & logistik memimpin lonjakan dengan melesat 4,20% seiring proyeksi penurunan ongkos perkapalan global jika Selat Hormuz dibuka. Sektor properti dan keuangan ikut menyumbang energi positif dengan penguatan masing-masing sebesar 1,23% dan 1,14%.
Di sisi lain, empat sektor terjerembap di zona merah dengan koreksi terdalam diderita oleh sektor energi yang anjlok 1,94% akibat spekulasi normalisasi pasokan minyak mentah dunia, disusul sektor barang baku (-1,23%) dan sektor kesehatan (-0,70%).
Otoritas bursa mencatat frekuensi perdagangan saham harian menembus angka 2.065.076 kali transaksi dengan volume bersih mencapai 27,66 miliar lembar saham senilai Rp16,95 triliun. Secara akumulatif, sebanyak 470 saham bergerak ekspansif, 236 saham terkoreksi landai, dan 114 emiten stagnan. ***

















