Masalah hari ini tidak bisa diselesaikan dengan logika kemarin. Simak pentingnya Maverick Leader dalam leadership modern untuk memecah kebuntuan bisnis.
Oleh : Heru Kristiyana, Direktur Utama LPPI
- Baca juga: The Busyness Trap
BEBERAPA waktu belakangan kita menjadi saksi bagaimana kondisi perekonomian nasional dan global yang menantang telah memaksa semua pihak untuk melakukan perubahan. Perubahan yang kita lihat bersama-sama tidak hanya terjadi pada perekonomian, tetapi juga pada kehidupan politik dan sosial.
Perubahan menjadikan semua yang ada di hadapannya tampak rapuh. Organisasi yang tidak memenuhi kehendak perubahan itu bisa disapu dan menghilang dari peta persaingan. Namun di situlah letak peluangnya. Ketidakpastian, perubahan, dan kerapuhan adalah tempat lahirnya inovasi, kreativitas, dan ide-ide baru yang bisa membawa atau menyelamatkan organisasi dari dampak buruk perubahan.
Namun demikian, di tengah perubahan yang begitu cepat—di mana algoritma mengambil alih intuisi, dan disrupsi menjadi norma baru—dunia diam-diam sedang mendambakan satu jenis pemimpin yang tidak biasa. Bukan yang paling vokal, bukan pula yang terpoles oleh pencitraan. Tapi pemimpin yang hadir justru karena ketidakhadirannya dalam ego. Mereka tak menjual mimpi, melainkan mengubah hal yang tampak mustahil menjadi kenyataan.
Kita sedang berbicara tentang Maverick Leader, pemimpin yang mampu memecah kebuntuan, penantang arus, dan pencipta terobosan. Mereka adalah pemimpin yang menantang pendekatan tradisional dan mendorong inovasi. Sebagai Maverick Leader, mereka sering mengambil keputusan berani yang berbeda dari kebiasaan, namun membuahkan hasil yang kuat.
Dalam banyak organisasi saat ini, baik itu korporasi, lembaga publik, maupun institusi pemerintahan, kita sudah terlalu sering menyaksikan pemimpin yang memilih ‘jalur aman’. Mereka cenderung memilih jalur yang telah dilalui, mengikuti formula yang telah terbukti, dan berharap hasilnya akan serupa. Padahal, dunia telah berubah. Masalah-masalah hari ini tidak bisa diselesaikan dengan logika kemarin.
Seperti yang dikatakan oleh Peter F Drucker, maestro manajemen: “The greatest danger in turbulence is to act with yesterday’s logic.” Dibutuhkan pemimpin yang bisa memberikan solusi baru tanpa bergantung dengan logika lama.
Akan tetapi, Maverick Leader tidak berarti harus selalu menentang pola dan kebiasaan lama. Mereka menantang konvensi itu hanya jika konvensi itu membelenggu dan justru tidak menjadi solusi. Ketika sistem buntu, mereka tidak mencari kambing hitam, melainkan membuka jalan baru. Mereka tidak bekerja untuk memelihara posisi, melainkan untuk menyelesaikan misi.
Salah satu ciri utama dari pemimpin seperti itu adalah mereka telah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka tidak lagi fokus mengumpulkan harta, tak lagi sibuk membuktikan ego, meraih panggung, atau menjaga citra. Karena itu, mereka bebas. Dan dalam kebebasan itu, mereka mampu berpikir jauh, tajam, dan dalam.
Dalam sejarah, tokoh-tokoh seperti Nelson Mandela, Jacinda Ardern, hingga Satya Nadella menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar soal posisi, melainkan pengaruh yang dibangun dari visi dan keberanian.
Mandela tidak hanya memimpin Afrika Selatan keluar dari apartheid, namun dia menolak membalas dendam, dan justru memilih rekonsiliasi. Terobosan itu hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang sudah menaklukkan dirinya sendiri—bukan orang yang masih dikuasai amarah atau dendam pribadi.
Jacinda Ardern, juga bisa menjadi contoh terbaru pemimpin sebuah negara yang terbilang berhasil, karena pendekatannya yang berbeda ketika memimpin Selandia Baru. Bahkan dengan sederet keberhasilannya dia memilih untuk tidak memperpanjang masa jabatannya.
Satya Nadella, di sisi lain, mengambil alih Microsoft ketika perusahaan itu dianggap lamban dan ketinggalan zaman. Tapi alih-alih mengikuti jejak pendahulunya yang keras dan kompetitif, ia membawa empati, kolaborasi, dan pembaruan budaya. Hasilnya? Microsoft kembali relevan, bahkan mendominasi.
Atau Ignasius Jonan jika kita mencari sosok pemimpin dari Indonesia yang berhasil. Mantan bankir Citibank ini, berhasil mengubah budaya PT KAI dari perusahaan yang merugi menjadi profesional, berorientasi pelanggan, dan menguntungkan. Berhasil menjalankan fokus Perusahaan pada perbaikan fundamental seperti pelayanan, kebersihan, modernisasi teknologi, penertiban, serta pengembangan sumber daya manusia, yang membawa PT KAI menjadi transportasi publik yang modern dan efisien
Di balik semua itu, mereka memiliki satu kesamaan: mereka memilih jalan yang tidak populer. Jalan yang bagi banyak orang aneh, tidak biasa, menabrak patron, dan cenderung tidak popular. Tetapi karena itulah jalan tersebut justru berdampak.
Kesamaan lainnya, mereka juga visioner namun tetap membumi. Keinginannya untuk membawa mimpi kesuksesan di masa depan tidak meninggalkan jauh kebutuhan dari tim dan bawahannya. Atau jika konteksnya adalah negara, dia tidak terlalu jauh meninggalkan mimpi dan kebutuhan rakyatnya.
Maverick Leader juga mampu dan berani mencari terobosan bukan karena merasa lebih cerdas dari yang lain, tetapi karena mereka berpikir tanpa beban kepentingan pribadi. Mereka tidak takut kehilangan jabatan, karena memang tidak pernah menjadikannya tujuan.
Kepemimpinan semacam ini sudah sangat langka saat ini, karena syarat utamanya adalah kemurnian niat—sesuatu yang sulit dijaga ketika dunia begitu penuh godaan kekuasaan. Namun ketika pemimpin seperti ini hadir, dampaknya sistemik. Mereka tidak sekadar memimpin perusahaan, tapi membentuk budaya baru. Tidak hanya menyelesaikan masalah, tapi mengubah cara berpikir manusia di dalamnya.
Dalam dunia yang bergerak tanpa jeda, pemimpin yang tahan uji adalah mereka yang tidak dibentuk oleh arus, tetapi memilih untuk menjadi nakhoda. Mereka menjadi pemimpin —baik dipilih ataupun ditunjuk, bukan demi popularitas, tetapi karena mereka dipercaya bisa membawa kapal sampai ke tujuan, dan tidak ada orang lain yang cukup tepat lagi untuk mengambil kemudi. ***

















