Jujur, empati, dan jelas. Intip pentingnya “speak with candor” dalam leadership saat menghadapi situasi krisis agar tidak menciptakan ketidakpastian.
Oleh : Heru Kristiyana, Direktur Utama LPPI
- Baca juga: The Busyness Trap
Bencana alam selalu memberikan pesan kepada manusia, betapa rapuhnya dunia, bahkan di zaman yang semakin modern ini. Bencana alam juga seringkali memperingatkan kita bahwa ada yang salah pada cara kita mengelola dan memelihara alam. Namun demikian di saat infrastruktur luluh lantak dan data statistik kehilangan relevansinya, ada satu hal yang justru semakin penting yaitu respons seorang pemimpin.
Sebagai bangsa yang telah berulang kali diuji oleh gempa, banjir, erupsi, dan berbagai bencana lainnya, kita tahu bahwa respons pemerintah bukan sekadar soal logistik atau anggaran. Ia juga soal komunikasi. Bagaimana seorang pemimpin berbicara ketika rakyat sedang kehilangan, bagaimana ia menyampaikan kenyataan tanpa memperbesar kecemasan, dan bagaimana ia menata ulang kepercayaan publik, menjadi pentingdan sering menjadi fondasi dari setiap pemulihan.
Dalam banyak pengalaman saya di sektor jasa keuangan, saya belajar bahwa kepercayaan adalah mata uang paling berharga yang dimiliki sebuah lembaga. Setiap krisis membuktikan bahwa kejujuran jauh lebih menenangkan daripada ketidakpastian. Karena itu, dalam situasi krisis, seorang pemimpin bukan hanya dituntut hadir; ia dituntut berbicara terus terang, jelas, dan penuh tanggung jawab— speak with candor.
Keterusterangan bukan berarti menyampaikan setiap detail teknis. Keterusterangan berarti memberi arah. Menyampaikan apa yang terjadi, apa yang sudah dilakukan, apa yang belum bisa dilakukan, dan apa yang harus dipersiapkan. Barangkali publik dapat memahami kesulitan, yang tidak dapat mereka terima adalah kebingungan atau ketidakpastian.
Paul William “Bear” Bryant, seorang yang dikenal sebagai salah satu pelatih terhebat dalam football Amerika, pernah mengatakan sebuah kalimat yang selalu dikutip ketika terjadi masalah besar menimpa sebuah organisasi. In a crisis, don’t hide behind anything or anybody. They’re going to find you anyway.
Di tengah bencana, kata-kata bukan sekadar suara. Ia adalah instrumen kebijakan. Kalimat yang tepat dapat menggerakkan ribuan sukarelawan. Kalimat yang keliru dapat menciptakan panik di jalan-jalan.
Karena itu seorang pemimpin tidak boleh mengeluh, tidak boleh menyalahkan, tidak boleh melontarkan komentar yang menyinggung sensitivitas korban. Sebab kata-kata pemimpin membentuk realitas psikologis rakyatnya.
Dalam hal ini gaya komunikasi seorang pemimpin menjadi penting. Tidak hanya harus pandai berkomunikasi, ia juga harus disiplin dalam berbicara sebagai cerminan integritas kepemimpinan. Menurut pandangan saya, setidaknya ada tiga kualitas yang harus ada dalam setiap komunikasi pemimpin pada saat krisis. Pertama dan yang paling utama adalah kejujuran, karena tanpa itu, kredibilitas dan kepercayaan akan segera runtuh. Kedua, adalah empati, karena bencana bukan hanya angka kerusakan, tetapi tentang banyak orang yang kehilangan harta benda dan sanak saudaranya. Ketiga, adalah kejelasan, karena setiap kata yang kabur dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang salah.
Pemimpin yang baik tidak pernah menggunakan kata-kata untuk menutupi kelemahan. Ia menggunakannya untuk memperkuat kepercayaan. Pemimpin tidak menyembunyikan fakta, tetapi menjelaskan fakta dengan kedalaman dan ketenangan yang mengurangi kecemasan. Pemimpin tidak menciptakan harapan palsu, tetapi membangun harapan yang bertumpu pada realitas. ***

















