Satu mulut, dua telinga. Simak mengapa kemampuan mendengarkan adalah “master skill” yang wajib dimiliki pemimpin untuk menjaga kepercayaan tim.
Oleh : Heru Kristiyana, Direktur Utama LPPI
- Baca juga: The Busyness Trap
MENGAPA Tuhan memberikan kepada manusia, satu mulut dan dua telinga? Jawaban yang paling mudah adalah karena Tuhan ingin manusia lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Tetapi jika kita bisa peras lebih dalam, hal itu juga menyiratkan agar kita lebih bijaksana dalam memilih kata-kata dan berhati-hati dalam berbicara. Sekaligus agar kita dapat menyimak suara-suara sekeliling, menyerap informasi lebih banyak, dan berpikir lebih matang.
Banyak orang terpaku pada kemampuan-kemampuan standar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Di antaranyanya adalah memilki integritas, profesional, kemampuan memahami inti setiap masalah, berani mengambil keputusan dengan risiko yang terukur sekaligus berani mempertanggungjawabkannya. Selain itu ada nilia-nilai tambahan seperti memiliki visi dan intuisi kuat yang didasarkan pengalaman yang luas, mampu berempati dan memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan
Akan tetapi, dalam dunia yang penuh dengan perubahan dan tantangan, menjadi pemimpin yang baik berarti membuka telinga dan hati kita untuk memahami perspektif orang lain—baik itu bawahan, kolega, bahkan pesaing.
Mendengarkan bukan hanya tentang menyimak kata-kata, tetapi benar-benar memahami pikiran, perasaan, dan mungkin kekhawatiran yang diucapkan orang-orang di sekitar kita. Ini tentang hadir, berempati, dan berpikiran terbuka. Ini tentang mengakui bahwa kita tidak memiliki semua jawaban dan selalu ada hal baru untuk dipelajari.
Sebagai pemimpin, kita harus memahami bahwa mendengarkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan. Mendengarkan orang lain memungkinkan kita memperoleh wawasan, perspektif, dan ide berharga yang dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memajukan perusahaan. Kemampuan mendengarkan juga menunjukkan bahwa kita menghargai dan menghormati pendapat orang lain, dan bahwa kita bersedia merangkul keberagaman dan kolaborasi.
Sepanjang pengalaman saya, kemampuan mendengarkan menjadi nilai yang tidak boleh dinafikan begitu saja, jika tidak mau dianggap sebagai salah satu yang terpenting. Menjadi pemimpin yang adaptif dan berhasil tidak hanya memimpin dengan memberi contoh, tetapi juga secara aktif mencari umpan balik dan masukan dari orang lain. Dengan mendengarkan karyawan, kolega, dan bahkan pesaing, kita dapat lebih memahami tantangan dan peluang yang ada di depan. Pemahaman yang komprehensif tentang situasi ini memungkinkan kita untuk membuat keputusan yang tepat dengan risiko yang terukur, dan pada akhirnya bertanggung jawab atas hasilnya.
Memiliki intuisi berdasarkan pengalaman memang penting, tetapi sama pentingnya untuk memvalidasi asumsi dan firasat kita dengan mendengarkan orang lain. Dengan mendengarkan, kita dapat memvalidasi ide-ide kita, menantang asumsi kita, dan pada akhirnya membuat keputusan yang lebih baik untuk kepentingan organisasi kita.
Sejarah dipenuhi dengan contoh-contoh pemimpin yang jatuh dari kejayaan karena mereka percaya bahwa mereka tahu segalanya dan menolak untuk mendengarkan suara-suara di sekitar mereka. Bahkan di zaman sekarang ini, kemampuan mendengar dan berempati tidak pernah kehilangan relevansi. Contoh nyata bisa kita saksikan beberapa waktu lalu, ketika seorang pemimpin daerah yang tidak mau mendengarkan suara dari rakyatnya pada akhirnya mendapat penolakan masif dari rakyatnya sendiri.
Tepat kiranya yang ditulis oleh Robin Sharma, seorang pakar dan penulis buku kepemimpinan global, bahwa “kehebatan seorang pemimpin terletak pada kemampuannya untuk mendengarkan.” Mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak hanya kunci dari pemahaman yang lebih dalam, tetapi juga jalan menuju inovasi. Oleh karena itu dia menekankan pentingnya mendengarkan sebagai seni yang membuat individu lain merasa dihargai. Kurangnya kemampuan mendengarkan di tempat kerja, menyebabkan karyawan meninggalkan organisasi.
Robin S. Sharma dalam bukunya Be Extraordinary: The Greatness Guide Book Two: 101 More Insights to Get You to World Class: “Listening is a master skill for personal and professional excellence. Leaders listen.”
Sebagai seorang pemimpin, kita harus membuang jauh-jauh pikiran bahwa kita tahu segalanya dan menutup mata terhadap keterbatasan dan kelemahan kita sendiri. Seorang pemimpin yang gagal dalam mendengarkan suara dan masukan-masukan dari sekelilingnya berpotensi untuk menciptakan ketidakpuasan.
Saya ingin mengajak Anda untuk menengok sejenak pada peristiwa terbaru yang terjadi di sebuah daerah di Jawa Tengah, yang banyak menarik perhatian masyarakat beberapa waktu lalu. Ketika masyarakat melontarkan keresahan dan tuntutan untuk perbaikan, pemimpin setempat malah tampak menutup telinga dan mempertahankan posisinya.
Ketika kita merasa bahwa kita adalah “benar” dan bersikukuh pada pendapat kita tanpa bersedia membuka ruang untuk dialog, kita tidak hanya menghancurkan jembatan komunikasi, tetapi juga memecah kepercayaan yang harusnya ada dalam setiap hubungan. Alhasil, pemimpin tersebut kini menghadapi ketegangan dan perpecahan yang seharusnya bisa dihindari.
Melalui contoh tersebut, jelas bahwa menutup telinga bukan hanya menghalangi arus informasi, tetapi juga menutup peluang untuk inovasi, perubahan, dan perbaikan. Oleh karena itu, marilah kita tekankan nilai mendengarkan dalam perjalanan kita sebagai pemimpin. Jadikan ini sebagai kekuatan kita, bukan hanya dalam mengelola tim, tetapi juga dalam memengaruhi dunia di sekitar kita.***
















