Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan pertanggungjawaban APBN 2025. Di tengah gejolak global, ekonomi RI tumbuh 5,11% dan defisit terjaga 2,81%.
Stabilitas.id – Pemerintah resmi menyampaikan tanggapan atas pandangan fraksi-fraksi DPR RI mengenai Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2025 (RUU P2 APBN 2025).
Dalam Sidang Paripurna DPR RI yang digelar Selasa (14/7), Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengapresiasi seluruh masukan dan catatan dari parlemen guna meningkatkan tata kelola fiskal di masa mendatang.
Purbaya memaparkan bahwa sepanjang tahun 2025, lanskap perekonomian global dihantam tantangan berat, mulai dari fragmentasi perdagangan hingga eskalasi tensi geopolitik yang mengganggu arus logistik dan investasi global. Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, fundamental ekonomi Indonesia terbukti resilien.
BERITA TERKAIT
“Kita patut bersyukur di tengah gejolak global tersebut, stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga. Ekonomi pada tahun 2025 tumbuh 5,11 persen,” ujar Purbaya.
Penopang Utama
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kokoh di level 5,11% pada tahun lalu ditopang oleh dua mesin pertumbuhan domestik utama:
-
Konsumsi Rumah Tangga: Terjaga stabil dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,98%.
-
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB): Sektor investasi fisik atau PMTB ini tumbuh positif sebesar 5,09%.
Selain pertumbuhan yang kuat, bauran kebijakan yang efektif antara otoritas fiskal dan moneter berhasil meredam gejolak harga. Laju inflasi nasional sepanjang tahun 2025 berhasil ditekan pada level yang rendah dan terkendali, yakni sebesar 2,92%.
Purbaya menjelaskan, daya tahan ekonomi domestik tidak terlepas dari peran krusial APBN 2025 yang difungsikan sebagai penahan benturan (shock absorber) dari ketidakpastian global. Kebijakan fiskal didesain ekspansif namun tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent).
-
Defisit Anggaran: Realisasi defisit APBN 2025 terkendali ketat di level 2,81% dari PDB atau setara dengan Rp670,34 triliun. Angka ini dipastikan masih berada di dalam batas aman (di bawah 3%) yang ditetapkan undang-undang.
-
Pembiayaan Neto: Guna menutup defisit tersebut, pemerintah merealisasikan pembiayaan neto sebesar Rp742,73 triliun, atau 20,54% lebih tinggi dari target awal APBN 2025 seiring dengan momentum kondisi pasar yang membaik.
Efek Paket Stimulus
Untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah serta memperkuat sektor riil, pemerintah menyalurkan paket stimulus ekonomi senilai total Rp110,7 triliun yang digelontorkan secara bertahap di setiap kuartal.
Stimulus ini dialokasikan langsung untuk program-program padat karya, dukungan permodalan UMKM, sektor perumahan, program magang, pemberian diskon tiket liburan, hingga program pemberdayaan generasi muda.
Intervensi fiskal tersebut berdampak langsung pada perbaikan indikator kesejahteraan sosial nasional:
-
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT): Berhasil ditekan ke level 4,85% per Agustus 2025, lebih baik dibandingkan posisi Agustus 2024 yang sebesar 4,91%.
-
Tingkat Kemiskinan: Mengalami penurunan ke level 8,25% per September 2025, menyusut dari posisi September 2024 yang masih bertengger di angka 8,57%. ***

















